Oktober 15, 2026
Ilustrasi bayi yang tengah menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Pixabay/laxmandeep)

Balidalamberita.com, BULELENG – Berbagai keluhan orang tua mengenai banyaknya suntikan ketika imunisasi dasar terhadap bayi akhirnya mendapatkan tanggapan dari pemerintah dengan menghadirkan Vaksin Heksavalen yang merupakan inovasi penggabungan enam perlindungan penyakit pada satu suntikan.

Pada Oktober 2025 ini, Provinsi Bali sebagai salah satu dari tiga kawasan percontohan nasional bersama dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin dan menyasar bayi yang memiliki tanggal kelahiran setelah 9 Juli 2025.

Vaksin ini memberikan perlindungan kepada beberapa penyakit, misalnya: difteri, Haemophilus influenzae tipe B (Hib), hepatitis B, pertusis, polio dan tetanus untuk menggantikan jadwal imunisasi dasar kepada bayi usia 2, 3, hingga 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, mengungkapkan terobosan tersebut adalah hasil evaluasi lapangan kepada berbagai keluhan warga.

“Kami menemukan adanya banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik ketika imunisasi berlangsung. Jika dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, saat ini cukup sekali,” ucapnya, Selasa, 7 Oktober 2025.

Ia mengungkapkan, jumlah suntikan yang berkurang bukan hanya mengurangi rasa sakit dan trauma kepada bayi saja, namun juga meningkatkan kepatuhan orang tua dalam menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain pada sisi kenyamanan, vaksin kombinasi tersebut juga sebagai langkah strategis dalam menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya sering terjadi diantara vaksin Pentavalen serta Polio injeksi.

“Dengan menjadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting supaya seluruh bayi memperoleh perlindungan penuh,” kata dr. Sebawa.

Dari sisi penyelenggaraan, pihaknya mengatakan efisiensi juga dirasakan dari tenaga kesehatan. Pemberian vaksin saat ini dianggap lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan bisa dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, posyandu, klinik, dan bahkan bidan praktik mandiri.

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan hingga 2 bulan 29 hari telah terdata mencapai 2.450 bayi,” imbuhnya.

Dr. Sebawa mengharapkan, dengan adanya vaksin Heksavalen tersebut, pemerintah memiliki target capaian IDL hingga angka 95 persen, serta mencegah timbulnya potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) karena enam penyakit menular yang bisa dicegah melalui langkah imunisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *