Balidalamberita.com, DENPASAR–WFAD Foundation menggelar edukasi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di Bali.
Kegiatan ini bagian dari komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif, preventif, dan inklusif. WFAD Foundation berkolaborasi dengan Politeknik Kesehatan Kartini Bali, STIKES Kesdam IX/Udayana, Universitas Bali Internasional, serta Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Bali dan kegiatannya dalam bentuk Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Samata Maitri: Edukasi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat” di Sekretariat HWDI Bali, Denpasar.
Kegiatan ini dipimpin oleh Luh Verra Sridyantari, S.Tr.Kep., M.Kes, Head of Research & Innovation WFAD Foundation sekaligus dosen Politeknik Kesehatan Kartini Bali, yang bertindak sebagai Ketua Pelaksana. Program Samata Maitri merupakan bagian dari upaya WFAD Foundation dalam memperkuat literasi kesehatan masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, WFAD Foundation mendorong terciptanya masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya pencegahan penyakit, deteksi dini, serta pemanfaatan layanan kesehatan yang tersedia.
“Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi yang kuat antara dunia akademik, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, dan berbagai mitra. Melalui Samata Maitri, kami ingin menghadirkan edukasi kesehatan yang inklusif, mudah dipahami, dan mampu mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan dirinya maupun keluarganya,” ujar Luh Verra Sridyantari, S.Tr.Kep., M.Kes, Head of Research & Innovation WFAD Foundation sekaligus dosen Politeknik Kesehatan Kartini Bali.
Program ini menjadi wujud nyata sinergi berbagai institusi dalam memperluas akses edukasi kesehatan bagi masyarakat. Sebanyak 37 peserta yang terdiri atas anggota HWDI, akademisi, tenaga kesehatan, mahasiswa, Juru Bahasa Isyarat (JBI), serta mitra pendukung mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung secara interaktif. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun sistem kesehatan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal peserta, kemudian dilanjutkan dengan sesi edukasi yang menghadirkan narasumber dari berbagai institusi. Luh Verra Sridyantari, S.Tr.Kep., M.Kes dari Politeknik Kesehatan Kartini Bali sekaligus Head of Research & Innovation WFAD Foundation menyampaikan materi mengenai Diabetes Melitus, meliputi faktor risiko, pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaannya.
Ni Luh Ayu Citra Mutiarahati, S.KM., M.Kes dari STIKES Kesdam IX/Udayana memberikan edukasi mengenai BPJS Kesehatan dan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Selanjutnya, Ni Komang Semara Yanti, S.KM., MPH dari Universitas Bali Internasional membahas pentingnya pencatatan dan pemeliharaan riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, sedangkan Christina Maria Rini Wulandari dari HWDI Bali menyampaikan materi mengenai kesehatan reproduksi dari perspektif disabilitas, dengan menekankan pentingnya akses layanan kesehatan yang setara dan inklusif bagi seluruh masyarakat.
Agar penyampaian materi lebih menarik dan mudah dipahami, kegiatan dikemas secara partisipatif melalui diskusi interaktif, sesi tanya jawab, ice breaking, kuis kesehatan, serta pembagian door prize. Setelah seluruh materi selesai disampaikan, peserta mengikuti post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan. Selain itu, peserta juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan sederhana dan konsultasi kesehatan sebagai upaya mendorong deteksi dini penyakit tidak menular.
Kegiatan turut didukung oleh Yakult dan Rumah Sehat Novi, yang berkontribusi dalam penyediaan layanan kesehatan dan dukungan kepada peserta.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang diterapkan mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai pencegahan Diabetes Melitus, pemanfaatan BPJS Kesehatan dan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pentingnya pemeliharaan dokumen kesehatan, serta kesehatan reproduksi. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung melalui diskusi yang aktif dan konsultasi kesehatan yang dimanfaatkan secara optimal. Survei kepuasan juga menunjukkan bahwa 78% peserta menyatakan puas terhadap pelaksanaan kegiatan, sementara sebagian besar mitra memberikan penilaian positif terhadap kolaborasi yang telah terjalin.
Melalui Samata Maitri, WFAD Foundation menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program berbasis riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan di Indonesia. Ke depan, WFAD Foundation bersama seluruh mitra akan terus mengembangkan kolaborasi melalui edukasi kesehatan, skrining penyakit tidak menular, pendampingan komunitas, serta berbagai program berbasis bukti (evidence-based programs) sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang lebih sehat, inklusif, dan berdaya.
