
Balidalamberita.com, TABANAN – Gunung Batukaru atau dikenal dengan Batukau, berlokasi di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.
Nama ‘Batukaru’ asalnya dari bahasa Bali, yaitu ‘batu’ yang artinya batu, dan ‘karu’ yang bisa diartikan menjadi karma atau takdir.
Secara filosofis, Gunung Batukaru merefleksikan sebagai ajaran Hindu-Bali tentang dasar kehidupan (batu) dan perjalanan spiritual (karu).
Gunung ini menjadi tempat untuk bersembahyang karena dianggap menyatu bersama dengan semesta.
Menurut kepercayaan masyarakat pulau Bali, Gunung Batukaru merupakan tempat bersemayamnya dari Dewa Mahadewa.
Dewa Mahadewa merupakan penjaga arah barat menurut ajaran Dewata Nawa Sanga sehingga gunung tersebut dianggap suci serta menyimpan kekuatan gaib.
Warga sekitar memiliki keyakinan jika siapa pun yang mempunyai niat buruk maka saat berada di pegunungan tersebut akan menerima gangguan seperti tersesat di dalam hutan.
Karakteristik Gunung Batukaru
Gunung Batukaru adalah gunung berapi tidak aktif yang memiliki ketinggian sekitar 2.276 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Setelah Gunung Agung, Gunung tersebut menjadi yang tertinggi kedua di Bali.
Permukaan dari gunung tersebut ditutupi oleh hutan hujan tropis yang lebat dan menjadi habitat flora dan fauna endemik Bali.
Misalnya: anggrek liar, pohon-pohon tropis besar, atau beragam jenis burung langka.
Suasana yang tenang dan alami membuat Gunung Batukaru menjadi tempat favorit untuk pendaki, seperti bagi pemula sampai menengah.
Gunung tersebut juga terkenal sebagai tempat untuk melakukan yoga atau meditasi karena memiliki aura spiritualnya yang tinggi.
Dari puncak pegunungan, maka pendaki bisa menikmati panorama alam yang ada di Bali pada bagian selatan dan barat yang menakjubkan.
Ada 2 Pura Sakral yang Berada di Gunung Batukaru
Di wilayah Gunung Batukaru ada 2 pura penting, yaitu Pura Luhur Batukaru dan Pura Pucak Kedaton. Keduanya sebagai pusat pemujaan umat Hindu yang ada di Bali.
Pura Luhur Batukaru berlokasi di lereng selatan gunung, tepatnya berada di Wongaya Gede, Penebel.
Pembangunan pura tersebut diperkirakan pada abad ke-11 oleh Raja Anak Wungsu dari Dinasti Warmadewa.
Lokasinya yang ada di tengah hutan tropis sebagai tempat yang tenang dalam meditasi dan tapa brata.
Sedangkan, Pura Pucak Kedaton ada yang lebih tinggi, berada di dekat puncak Gunung Batukaru.
Pura tersebut diyakini sebagai tempat tinggal dari para dewa atau roh suci penjaga di gunung tersebut.
Tidak semua orang dapat melakukan pengaksesan pura tersebut karena dianggap sangat sakral dan hanya perlu dikunjungi berdasarkan ritual khusus dari pemangku ataupun tokoh adat Bali.
