Balidalamberita.com, DENPASAR—Krista Exhibition Group sukses menaikan level pameran Bali Interfood 2026 di BNDCC Nusa Dua ke internasional berkat diplomasi gelato dengan Italia.
Pameran internasional terbesar yang mempertemukan pelaku dan produsen kuliner tahun ini terasa istimewa karena menjadi tuan rumah seleksi Asia Gelato World Cup kategori individu. Kompetisi mewajibkan peserta membuat gelato dari bahan baku lokal seperti buah nanas, durian serta mampu menceritakannya secara baik.
Pemenang seleksi ajang yang diselenggarakan di sela-sela Bali Interfood 2-4 September 2026 ini akan diadu dengan peserta dari 9 negara lain sebelum akhirnya mewakili kawasan Asia ke Kompetisi Dunia di Rimini Italia pada 23-27 Januari 2027 mendatang.
CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan adanya event seleksi Gelato World Cup terasa istimewa karena menjadi semacam diplomasi bagi Bali dan Indonesia di kancah pameran kuliner internasional. Istimewanya karena Bali dan khususnya Indonesia akhirnya dapat menyaingi kiprah industri MICE di Singapura. Biasanya, seleksi kejuaraan dunia gelato untuk Asia akan dipusatkan ke Singapura, tetapi kali ini juara dari Bali tidak perlu bertarung di negara tetangga tersebut.
“Jadi sekarang tidak perlu lagi harus ke Singapura. Bisa dari Bali dan final di Krista Exhibition baru kemudian ke Italia,” jelasnya saat membuka secara resmi Bali Interfood 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali pada Rabu, 2 September 2026.
Pengunjung dapat menyaksikan kompetisi sekaligus mengikuti berbagai workshop yang menghadirkan teknik dan kreativitas para profesional gelato. Rangkaian program tersebut antara lain Gelato Workshop Coconut Mango Dessert, Mixologist Workshop Morello Cherry Gelato, Gelato Competition, Gelato Workshop Sorbet Lollies, serta Mixologist Workshop Blood Orange Sorbet.
Diakuinya, tidak mudah menyakinkan panitia Gelato World Cup ke Bali Interfood. Namun, berkat konsistensi dan komitmen Krista Exhibition, perwakilan Italia akhirnya menyetujui seleksi di Bali. Pulau Dewata sendiri memiliki posisi yang strategis dalam perkembangan industri F&B nasional. Pertumbuhan sektor pariwisata, hotel, restoran, kafe, serta bisnis kuliner di Bali terus menciptakan kebutuhan terhadap produk, bahan baku, peralatan, teknologi, dan solusi industri yang semakin beragam.
Bali Interfood 2026 menjadi titik temu strategis bagi produsen, distributor, importir, buyer, pelaku HORECA, peritel, pemilik restoran dan kafe, hingga investor. Memasuki penyelenggaraan ke-7 pada 2–4 September 2026, pameran internasional yang ini mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman (F&B), hospitality, bakery, kopi, wine & spirit, hingga teknologi dan solusi bisnis dalam satu ekosistem. Selain pameran, business matching, networking session, dan program edukatif membuka peluang kolaborasi serta transaksi baru. Diikuti 110 peserta dari delapan negara, termasuk 35 UMKM, Bali Interfood 2026 menghadirkan produk, teknologi, dan solusi terbaru bagi industri F&B dan hospitality, dengan target 15.000 pengunjung selama tiga hari.
“Bali bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga merupakan salah satu pusat pertumbuhan bisnis hospitality dan kuliner di Indonesia. Karena itu, Bali Interfood kami hadirkan sebagai platform yang mempertemukan kebutuhan industri dengan inovasi dan peluang bisnis, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal dan UMKM untuk berkembang dan terhubung dengan pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Hal ini diamini oleh perwakilan peserta pameran. Manajer Robot Coupe di Bali Made Bawa mengakui dampak Bali Interfood bagi pelaku usaha. Distributor food processor and food preparation asal Prancis ini mengatakan 70 persen transaksi di event ini terlaksana.
“Membantu sekali buat produsen, makanya kami pun rutin ikut pameran disini untuk memperkenalkan produk,” jelasnya.
Ketua Gabungan Pengusaha Industri Pariwisata (GIPI) Bali Anak Agung Partha Adnyana menilai kesediaan panitia Gelato World Cup mengadakan seleksi di Bali membuktikan kiprah Pulau Dewata diakui internasional. Dia yakin, nama besar Bali telah memikat pusat gelato di Italia tersebut. Ditambah lagi bahwa, industri kuliner di destinasi pariwisata ini punya potensi sangat besar. Saat ini terdapat sekitar 245.000 unit usaha kuliner di Bali dengan omzet mencapai Rp 6,8 triliun.
Walhasil, Bali Interfood 2026 momentum untuk membangun jaringan, berbagi inovasi, dan membawa kuliner Indonesia naik kelas ke pentas dunia. Karena Bali adalah tempat terbaik membangun bisnis kuliner.
“Omzet kuliner Bali lebih besar dibanding Jakarta karena Bali sudah menjadi destinasi internasional, ditambah diversifikasi usaha kuliner yang sangat tinggi. Hampir setiap bulan ada restoran baru, terutama di kawasan wisata,” ujarnya.
Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengakui, wisatawan datang ke Bali ingin mencicipi pengalaman dan salah satunya adalah kuliner. Sehingga wajar jika potensi industri makanan dan minuman di daerah wisata ini sangat besar. Tidak mengherankan kontribusi industri makanan dan minuman (akmamin) terhadap perekonomian Bali lebih 20 persen.
“Artinya hampir 40 persen aktivitas pariwisata itu, pembelanjaan wisatawan itu ke makanan dan minuman. Ini menjadi peluang besar Bali untuk menggenjot potensi UMKM makanan dan minuman,” ungkap pria yang akrab disapa Cok Ace itu.
Bali Interfood 2026 menghadirkan menawarkan berbagai pilihan bagi pengunjung. Tidak hanya gelato, pengunjung juga dapat menikmati berbagai sesi kuliner dan beverage yang menghadirkan chef serta profesional industri. Program tersebut mencakup Cinnamon Roll bersama Chef Fajri Winarno, Dimsum Keju Lumer & Ghyong Chilli Oil bersama Chef Lucky R Katili, Bali Beans Manual Brew Class bersama Barista I Made Galih Kresnadana, serta demo Mie Goreng Lada Hitam & Kwetiau Goreng Olive Vegetable bersama Chef Ugay.
Bali Interfood 2026 menghadirkan pengalaman eksplorasi rasa yang mempertemukan wine dengan beragam karakter cita rasa melalui rangkaian Wine Pairings. Pengunjung diajak menikmati perpaduan yang unik dan inovatif, mulai dari Wine & Coffee Sensory bersama Bali Beans Coffee, Wine & Chocolate Pairing bersama Mason Chocolates Bali, hingga Plant-Based Perfection: A Green Rebel Wine Pairing Workshop.
Sementara itu, IPBI Competition Area menghadirkan berbagai kompetisi dan workshop, seperti Fruit Carving Competition, Table Setting Into the Sea Competition, dan Flower Table Decoration Workshop. Isu keberlanjutan juga menjadi bagian dari agenda edukasi melalui panel diskusi “Rethinking Food Waste: How Hospitality Can Do It Better” oleh Business & Community Manager Bali Restaurant Café Association (BRCA).
Bali Interfood 2026 juga memperkuat sisi bisnis melalui Business Matching Room, yang secara khusus mempertemukan pelaku industri Ho.Re.Ca.Ba (Hotel, Restaurant, Café, dan Bakery) dengan supplier dan exhibitor. Sejumlah agenda yang digelar antara lain “Ngopi Darat with Purchasing & Supplier Ho.Re.Ca.Ba Bali”, Coffee Morning with APKRINDO & APRINDO Bali, Afternoon Tea with IKABOGA & PHRI Bali, serta Meetup with Bali Restaurant Café Associations.
Program tersebut membuka ruang pertemuan langsung antara perwakilan purchasing dan procurement dengan supplier yang menawarkan bahan baku, produk, peralatan, teknologi, dan berbagai solusi untuk kebutuhan operasional bisnis. Bagi pelaku usaha, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mencari sumber produk baru, membandingkan solusi, membangun koneksi dengan supplier, serta menjajaki kerja sama yang berpotensi berlanjut setelah pameran.


