Balidalamberita.com, DENPASAR–CAST (Culture, Arts, Science, and Technology) Foundation bersama Fablab Bali menginisiasi transisi energi di Desa Serangan dengan pendekatan bottom-up melalui sistem Banjar lokal.
Kolaborasi Cast Foundation dan Fablab Bali berupa program inovasi teknologi yang menyentuh akar rumput mulai dirintis sejak tahun 2023 dan dinamakan Desa Utak Atik Serangan. Salah satu inovasinya prototype energi terbarukan berbahan hidrogen hingga inovasi rendah karbon.
Perwakilan CAST Foundation – Fablab Bali, Tafia Sabila dan Elaine Regina menjelaskan pihaknya tidak datang membawa inovasi tetapi melibatkan masyarakat lokal mulai dari ide hingga eksekusi di lapangan. Saat ini yang sudah berjalan adalah mesin ketinting untuk jukung nelayan yang diinjeksi dengan hidrogen agar lebih hemat bahan bakar.
“Teknologi yang diajarkan juga agar warga bisa melakukan secara mandiri khususnya dalam perbaikan. Jadi warga juga ngerti cara pakai mesinnya, dan sesuai dengan teknologi yang mereka pakai,” jelas Elaine ditemui di Pekan Iklim Bali 2026 di Sanur, 14 Oktober 2026.
Untuk diketahui, Desa Utak-atik Serangan merupakan program yang dirancang untuk menjawab tantangan transisi energi di Indonesia. Selama ini, sebagian besar inisiatif transisi energi masih berfokus pada infrastruktur skala besar atau riset laboratorium yang belum menyentuh realitas masyarakat akar rumput.
Akibatnya, terjadi meaningful bottleneck atau kesenjangan akses dan pengetahuan. Komunitas pesisir sering kali sulit mengadopsi maupun mengelola teknologi jika hanya menerima hibah tanpa pernah terlibat langsung dalam proses pembuatan atau pemeliharaannya.
Guna mengatasi ketergantungan energi fosil seperti bahan bakar minyak, dan listrik berbasis batubara, Desa Utak-Atik Serangan menerapkan pendekatan bottom-up melalui sistem Banjar lokal. Pendekatan ini mencakup wilayah enam Banjar dan Kampung Bugis di Serangan, dengan memperhatikan karakter serta kebutuhan spesifik masing-masing wilayah.
Melalui pendekatan ini, warga tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga ikut serta merancang dan merakit prototipe (hands-on) agar timbul rasa kepemilikan (agency).
“Seperti pemanfaatan solar panel sebagai sumber energi. Jadi kami diskusi dengan warga agar prototipenya yang dibuat lebih tepat guna dan efisien,” tuturnya.
Sementara itu, Tafia menjelaskan mesin ketinting untuk jukung nelayan yang diinjeksi dengan hidrogen agar lebih hemat bahan bakar.
“Nah, itu fungsinya dia bisa mengefisiensi pembakaran yang ada di dalam ruang karburator si mesin itu. Jadi, bisa lebih efisien 26% gitu pembakarannya, dalam artian penggunaan bensinnya jadi bisa lebih hemat secara 26%,” sebutnya.
Untuk lampu nelayan mencari udang, lanjut dia, mengubah lampu yang bertenaga aki yang digendong dengan berat hampir 3-4 kg.
“Nah, terus ini inovasi kita sebenarnya mengganti alternatif aki ini dengan bahasanya kayak powerbank dengan kapasitasnya jauh lebih besar. Kami membuat powerbank sendiri dan itu bisa eh dipakai untuk menghidupkan lampunya, sehingga jadi itu lebih ringan, jadi lebih ergonomis,” tuturnya.
Menurutnya, inovasi ini bisa bertahan lebih lama. Bahkan, jika sebelumnya mereka harus ngecas baterainya dan bayar Rp15.000 per dua hari, namun dengan inovasi ini maka nelayan bisa lebih mandiri. “Nah ini mereka bisa ngecas dari rumah aja,” imbuhnya.
Selain itu, partisipasi generasi muda juga diwadahi melalui penggabungan budaya dan teknologi, seperti pembuatan mekanisme ogoh-ogoh menggunakan penggerak wiper mobil bertenaga surya.
Ke depan, lanjut dia, pihaknya juga akan memberikan pelajaran terkait membuat membuat lampu blinking yang dipasang di perahu mereka. “Sebagai indikator buat jukung mereka, dan itu pakai panel surya,” tandasnya.
