Upacara Melianin atau Medagang Jaje di Desa Julah, Buleleng, Bali, dilangsungkan saat Hari Raya Galungan. Simak 4 tahap sakralnya yang kaya akan makna spiritual dan budaya.
Balidalamberita.com, BULELENG – Provinsi Bali dikenal sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Karena itu, masyarakatnya melestarikan berbagai upacara keagamaan dan tradisi sakral secara turun-temurun, termasuk tradisi unik yang hanya ada di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng.
Desa Julah tidak hanya menyimpan beragam tradisi dan kebudayaan, tetapi juga sejarah yang kuat. Nama “Julah” berasal dari kata “Iju” (cepat) dan “Ulah” (diusir). Konon, nama ini muncul saat masa kebajagan, ketika bajak laut menyerang desa tersebut. Warga pun terpaksa melarikan diri ke pesisir, sehingga desa ini dikenal sebagai tempat pengungsian akibat pengusiran tersebut. Seiring waktu, nama desa pun berubah beberapa kali—dari Cutak menjadi Kerta Sari Mas Cakrawaringin, dan akhirnya dikenal sebagai Desa Julah.
Salah satu tradisi penting yang masih lestari di desa ini adalah Upacara Melianin atau Medagang Jaje, bagian dari rangkaian Manusa Yadnya, khususnya bagi bayi yang lahir di Desa Julah atau mereka yang baru bergabung sebagai warga melalui perkawinan. Upacara ini berlangsung setiap Hari Raya Galungan, dan terbagi dalam empat tahapan utama.
1. Prosesi Ngae Gegantungan (Hari Penyajaan Galungan)
Pada tahap pertama, warga membuat aneka jajanan khas Bali seperti jaje begina, tape, dan jaje giling. Jajanan ini nantinya digunakan dalam upacara Melianin. Warga menggantungkan jajanan tersebut pada janur atau meletakkannya di sanggah milik keluarga yang menjalankan upacara.
2. Persiapan Banten dan Tradisi Ngejot (Penampahan Galungan)
Di hari kedua, warga menyiapkan banten seperti sate babi, sate ayam, dan lawar. Mereka kemudian melaksanakan prosesi ngejot, yaitu membagikan makanan kepada masyarakat yang tidak sempat hadir dalam upacara. Daging babi yang digunakan bukan berasal dari penyembelihan pribadi, melainkan hasil patungan bersama warga yang juga mengadakan upacara Melianin.
3. Upacara Penglukatan dan Medagang Jaje (Hari Galungan)
Pada hari ketiga, bayi atau peserta upacara menjalani prosesi penglukatan menggunakan air suci dari sumur keramat di Desa Julah. Menjelang sore, mereka menjalankan prosesi Medagang Jaje simulasi berdagang yang dilakukan oleh anak-anak atau orang dewasa.
Peserta perempuan membawa bokor berisi jajanan dan menjajakan dagangan sambil berjalan di atas lide (alat tenun). Sementara itu, peserta laki-laki harus menginjak kejen, alat pertanian yang biasa digunakan untuk membajak sawah. Mereka juga menjalankan ritual nganteb banten dan memuput upacara sesuai arahan Balian, tokoh spiritual yang memiliki wewenang mirip Jro Mangku.
4. Tradisi Mecacar dan Ngejot (Pasca Galungan)
Di hari keempat, peserta membagikan semua jajanan yang telah digantung sebelumnya kepada warga yang sudah berkeluarga. Proses mecacar dilakukan oleh pemuda desa dengan berkeliling dari rumah ke rumah untuk membagikan jajan tersebut. Sebagai penutup, warga menggelar upacara mecaru sebagai wujud rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian prosesi Melianin.
Upacara Melianin bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga sarana pelestarian nilai-nilai adat, kekeluargaan, dan spiritualitas yang khas dari Desa Julah. Tradisi ini menjadi warisan budaya yang unik dan tak ternilai dalam perayaan Hari Raya Galungan di Bali Utara.
