Oktober 15, 2026
Tradisi Galungan Bali

Warga tengah membuat penjor (Sumber foto: Instagram @senipenjorbali)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Menjelang Hari Raya Galungan yang dirayakan setiap 210 hari sekali, umat Hindu Bali melaksanakan berbagai kegiatan persiapan sarana upacara secara rutin dan penuh makna. Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Bali.

Berikut ini empat kegiatan utama yang biasa dilakukan umat Hindu Bali dalam menyambut Galungan:

1. Membuat Penjor

Umat Hindu Bali membuat penjor sebagai simbol kemenangan dharma melawan adharma. Penjor melambangkan Naga Basuki atau Naga Anantaboga dan menjadi ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Biasanya, warga memasang penjor dari batang bambu yang dihiasi dengan janur, buah-buahan, dan hasil bumi lainnya. Mereka menancapkan penjor di sisi kanan rumah sehari sebelum Galungan. Proses pembuatannya bisa berlangsung sejak 35 hari sebelum perayaan, tergantung tradisi masing-masing wilayah.

2. Metanding Banten

Kaum perempuan Hindu Bali mempersiapkan banten atau sarana persembahan suci yang akan dihaturkan ke tempat suci, pura, atau lingkungan sekitar rumah.

Beragam jenis banten disiapkan, mulai dari untuk persembahyangan di rumah hingga di pura-pura utama. Jumlah banten saat Galungan lebih banyak dibandingkan hari raya lainnya seperti Purnama atau Kajeng Kliwon.

3. Persembahyangan di Hari Raya Galungan

Saat Galungan tiba, umat Hindu Bali memulai hari dengan menghaturkan banten dan melakukan persembahyangan di rumah bersama keluarga. Setelah itu, mereka melanjutkan persembahyangan ke pura-pura seperti Pura Dadia, Pura Dalem, Pura Desa, dan Pura Puseh sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Menjelang sore, umat Hindu melakukan prosesi ngelungsur untuk mengambil kembali sarana persembahan agar bisa dinikmati bersama keluarga.

4. Ngelawar

Tradisi ngelawar, yang identik dengan Hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan), melibatkan kaum laki-laki yang melakukan pemotongan babi (nampah celeng) dan mengolahnya menjadi lawar dan sate galungan.

Lawar bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga sebagai persembahan kepada Bhuta Amangkurat, simbol kekuatan negatif yang dipercaya turun pada Hari Penampahan. Dalam ajaran Hindu Bali, umat tidak mengusir kekuatan negatif, tetapi menetralkannya (somia) agar tidak mengganggu jalannya upacara suci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *