Ilustrasi Jalak Bali, burung ikonik dari Pulau Bali yang terkenal langka dan dilindungi (greeners.co)
Balidalamberita.com, TABANAN – Jalak Bali merupakan burung ikonik dari Pulau Bali yang terkenal langka dan dilindungi. Saat ini keberadaan Jalak Bali dapat kamu temukan hidup secara bebas di lingkungan alam terbuka.
Jalak Bali dibiarkan bebas di Banjar Tingkihkerep, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Warga membentuk suatu kawasan konservasi yang lebih dikenal dengan sebutan Kampung Jalak Bali.
Kampung tersebut berlokasi di area yang sangat terpencil karena akses jalan utamanya memiliki akses masuk yang hanya mempunyai 1 jalur.
Lokasi Kampung Jalak Bali ini bisa dengan mudah ditemukan dengan Google Maps sambil menuliskan kata kunci Kampoeng Jalak Bali. Lokasi kampung tersebut dikelilingi dengan persawahan dan area hutan yang luas.
Kemunculan dari jalak Bali sampai tumbuh dan berkembang biak dengan sangat baik karena letak geografis Banjar Tingkihkerep.
Sekarang ini, wisatawan yang datang ke Kampung Jalak Bali ini tidak diharuskan membeli tiket masuk, namun memberikan donasi secukupnya saja.
Meskipun dianggap sebagai burung liar, jalak Bali di Desa Tengkudak tersebut dikenal jinak dan sangat mudah untuk ditemukan.
Burung-burung ini mudah mendekat ketika melihat keberadaan manusia, terutama ketika orang-orang membawa makanan, berupa jangkrik atau buah lokal misalnya: pepaya dan cepaka.
“Acara di Tingkihkerep tersebut selanjutnya didengar salah satu pelestari jalak Bali. Kemudian berdiri Kampung jalak Bali tersebut pada 2024 dengan pelepasan pertama yakni sebanyak 10 pasang,” ungkap Nengah Mahardika, Minggu, 8 Juni 2025.
Tetapi sayangnya, fasilitas pendukung ruangan informasi bagi pengunjung, pemandu pariwisata, toilet atau wc, dan area parkir ternyata masih belum ada.
“Mengingat juga baru berjalan kurang lebih satu tahun. Jadi ini berjalan tahap demi tahap,” imbuhnya.
Sedangkan I Wayan Yudi Artana, Staf Monitoring Yayasan FNPF (Friend of Nature People and Forest) mengungkapkan jika populasi jalak Bali yang saat ini sudah berkembang sebanyak 60 ekor jalak Bali.
Yudi bertanggungjawab memantau dan memonitor perkembangan serta perilaku dari jalak-jalak setiap harinya.
“Dari awal pelepasliaran tersebut, saat ini terdapat 24 anakan. Yang membedakan setiap induk mempunyai cincin seri di kakinya dengan warna yang berbeda,” ucapnya.
Tetapi, ia mengungkapkan terdapat tantangan, karena jalak Bali memiliki ketergantungan kepada manusia karena biasanya burung-burung tersebut meminta diberi makan. Selain itu, ancaman datang dari predator, misalnya kucing.
“Para burung tersebut justru berkumpul saat ada banyak orang. Biasanya mereka memberikan jangkrik, namun ada juga makanan alami mereka misalnya serangga, buah-buahan lokal seperti pepaya, cepaka, dan lempeni,” imbuhnya.
Wisatawan yang datang ke Kampung Jalak Bali biasanya adalah masyarakat lokal terutama adalah pecinta burung. Bahkan, ada yang sengaja tiba dari luar Bali hanya agar melihat habitat jalak Bali yang ada di kampung ini.
Waktu terbaik agar bisa mengunjungi Kampung Jalak Bali yaitu pagi serta sore hari. Menurutnya, hanya dengan siulan, maka burung-burung ini akan datang untuk mendekati orang-orang tersebut namun jika diberikan makanan favorit.
“Biasanya cukup dengan siulan burungnya akan tiba menghampiri. Namun wajib membawakan makanan mereka misalnya jangkrik,” ungkapnya.
Keberadaan Jalak Bali ini dijaga oleh warga Banjar Tingkihkerep dengan jumlah 107 kepala keluarga (KK).
