Ilustrasi Sungai Mengering akibat Kemarau
Balidalamberita.com, DENPASAR – Kemarau panjang masih berdampak pada sejumlah wilayah di Bali. Selain berkurangnya ketersediaan air bersih, mundurnya awal musim hujan juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan 2026/2027 di Bali diperkirakan datang lebih lambat dari biasanya. Sebagian wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November, sedangkan sebagian besar wilayah lainnya pada Desember 2026. Kondisi ini berkaitan dengan pengaruh fenomena El Niño yang dapat mengurangi curah hujan.
Dampak kemarau terlihat di Kabupaten Jembrana. Pemerintah kabupaten setempat melalui BPBD telah menyalurkan bantuan air bersih ke tujuh desa yang terdampak kekeringan. Lebih dari seribu keluarga dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain Jembrana, BPBD Provinsi Bali juga mencatat penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah kabupaten, termasuk Klungkung dan Karangasem. Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi masyarakat di wilayah yang sumber airnya mulai menyusut.
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau menggunakan air secara hemat, menjaga sumber mata air, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Petani juga perlu memperhatikan informasi iklim untuk menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi ketersediaan air.
BMKG mengingatkan bahwa prakiraan awal musim hujan dapat berbeda antarwilayah. Karena itu, masyarakat diharapkan terus mengikuti pembaruan informasi cuaca dan iklim agar dapat mempersiapkan diri menghadapi dampak kemarau yang masih berlangsung.
