
Balidalamberita.com, JEMBRANA – Bencana banjir ekstrem yang melanda Bali pada pertengahan September 2025, yang mengakibatkan belasan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengungsi, bukanlah sekadar peristiwa alam biasa.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pengamatan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan lembaga terkait, bencana ini merupakan hasil dari perpaduan mematikan antara cuaca ekstrem dan kerentanan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Banjir yang merendam setidaknya enam kabupaten/kota, dengan Denpasar dan Jembrana sebagai wilayah terparah, telah ditetapkan oleh pemerintah daerah dalam status tanggap darurat bencana.
Bencana ini menelan korban jiwa, yang sebagian besar disebabkan oleh terseret arus, tertimbun reruntuhan bangunan yang roboh akibat luapan air, atau tersengat listrik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat total korban tewas mencapai belasan orang, dengan beberapa korban lainnya dilaporkan hilang.
Ratusan unit rumah, ruko, serta infrastruktur penting seperti jembatan dan jalan utama mengalami kerusakan parah hingga roboh, dengan total kerugian ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah.
Para ahli sepakat bahwa ada tiga faktor utama yang berinteraksi hingga menghasilkan bencana banjir bandang dan longsor yang dampaknya sangat fatal:
- Curah Hujan Ekstrem (Faktor Alam)
Pemicu langsung dari bencana ini adalah curah hujan yang mencapai intensitas sangat tinggi dan berkelanjutan.
BMKG mengidentifikasi aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby sebagai salah satu pemicu utama. Fenomena ini menyebabkan pertumbuhan awan konvektif secara masif, menghasilkan curah hujan ekstrem.
Curah hujan harian tercatat melebihi batas kategori sangat berbahaya (>150 mm/hari).
Beberapa titik di Jembrana bahkan mencatat curah hujan mencapai 385,5 mm dalam satu hari, volume air yang mustahil diserap oleh tanah dalam waktu singkat.
- Alih Fungsi Lahan Masif (Faktor Manusia)
Tingginya curah hujan seharusnya masih dapat ditanggulangi jika Bali memiliki daya tampung resapan air yang memadai.
Namun, eksploitasi lahan yang didorong oleh pembangunan pariwisata dan permukiman telah menghilangkan fungsi hidrologis alami pulau tersebut.
Banyak lahan hijau, sawah, dan lahan pertanian (terutama sistem Subak) beralih fungsi menjadi bangunan, hotel, dan ruko.
Data menunjukkan bahwa alih fungsi lahan sawah di Denpasar dan Badung mencapai ratusan hingga ribuan hektar, menghilangkan “tangki” alami untuk menampung air hujan.
Pembangunan yang melabrak sempadan sungai menyebabkan penyempitan drastis pada aliran sungai.
Ketika sungai-sungai utama, seperti Tukad Badung, meluap, aliran air tidak bisa bergerak lancar, melainkan menghantam dan merobohkan bangunan di sekitarnya.
- Infrastruktur Drainase dan Krisis Sampah
Faktor ketiga yang memperparah genangan dan banjir adalah ketidakmampuan infrastruktur perkotaan dalam menghadapi volume air besar.
Banyak sistem drainase perkotaan tidak mampu menampung debit air ekstrem.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya volume sampah yang dibuang sembarangan.
Sampah-sampah menumpuk dan menyumbat saluran air, gorong-gorong, hingga bantaran sungai, memaksa air meluap ke jalan dan permukiman.
