
Balidalamberita.com, BULELENG – Wajah masa depan pariwisata dan perekonomian Bali Utara perlahan mulai terwujud.
Proyek pembangunan Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) di Kabupaten Buleleng kini memasuki tahap krusial dengan peluncuran resmi desainnya.
Bandara ini tidak hanya diproyeksikan sebagai solusi atas kepadatan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Selatan, tetapi juga sebagai gerbang “seni” pertama di dunia.
Bandara Bali Utara direncanakan berlokasi di pesisir Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.
Lokasi ini dianggap strategis karena berjarak sekitar 75 kilometer dari Bandara Ngurah Rai, serta dekat dengan destinasi wisata ikonik Bali Utara seperti Pantai Lovina dan Gunung Batur.
Proyek ini diprakarsai oleh PT BIBU Panji Sakti. Bandara ini diproyeksikan mampu menampung hingga 20 juta penumpang per tahun, setara dengan kapasitas Bandara Ngurah Rai saat ini.
Untuk mengejar target operasional pada 2028, pihak pemrakarsa berharap groundbreaking (peletakan batu pertama) dapat dilakukan dalam waktu dekat di tahun 2025, setelah penetapan lokasi (Penlok) resmi dikeluarkan.
Bukan Sekadar Bandara, Tapi ‘Artport’ Berfilosofi Bali
Desain Bandara Bali Utara yang baru diluncurkan oleh firma arsitektur Alien Design Consultant (DC) mengundang decak kagum.
Konsepnya diklaim akan menyaingi Bandara Changi di Singapura dan Incheon di Korea Selatan, namun dengan sentuhan budaya yang kental.
- Filosofi Bedawang Nala dan Tri Hita Karana
Desain bandara ini secara mendalam mengusung kearifan lokal Bali:
- Bedawang Nala (Kura-kura Kosmik)
Bentuk arsitektur utama, terutama atap dan pola lengkung bangunan, terinspirasi dari Bedawang Nala (kura-kura raksasa dalam mitologi Bali) yang menyangga bumi (Bhurloka).
Konsep ini diartikan sebagai penyangga (transit hub) yang melindungi, dengan bangunan utama menyerupai cangkang penyu raksasa.
- Tri Hita Karana
Filosofi luhur Bali yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam juga diterjemahkan dalam tata ruang, penggunaan material, dan integrasi dengan lanskap.
- Konsep Artport dan Teknologi Hijau
Pengembang bertekad menjadikan BIBU sebagai “artport” (bandara seni) pertama di dunia.
Sejak penumpang mendarat, mereka akan merasakan nuansa Bali yang kuat, dengan sudut-sudut bandara yang menampilkan pementasan Tari Kecak, musik gamelan, dan seni lukis lokal.
Proyek ini digadang-gadang sebagai bandara offshore (di lepas pantai) pertama di Indonesia yang dibangun di area hasil restorasi abrasi di pesisir.
Bandara akan mengintegrasikan penggunaan kendaraan listrik, energi hijau, dan pengelolaan air yang efisien, menjadikannya bandara modern yang berkelanjutan.
Pembangunan Bandara Bali Utara diharapkan menjadi katalisator bagi pemerataan ekonomi di Pulau Dewata.
Selama ini, aktivitas pariwisata terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan, menyebabkan kemacetan dan ketimpangan pembangunan.
Dengan adanya BIBU, Bali Utara akan menjadi pusat ekonomi baru yang tidak hanya menampung turis tetapi juga menyediakan fasilitas Meeting, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE), pusat data, dan energi terbarukan.
Kendati sempat menghadapi pro dan kontra terkait isu lingkungan dan penggusuran lahan, pembangunan bandara ini kini telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, menandakan komitmen kuat pemerintah pusat untuk merealisasikannya.
