Jawa Pos TV Bali-BMKG Gelar Pelatihan Kapasitas Jurnalis Peliputan Bencana
Balidalamberita.com, DENPASAR—Media diajak lebih bijak dan tidak cenderung menakut-nakuti saat memberitakan peristiwa bencana alam.
Sebaliknya, media memiliki peran untuk memberikan edukasi tanpa harus menggunakan diksi bahasa yang terkesan hiperbola. Perwakilan BMKG Bali dari Stasiun Klimatologi Bali I Made Dwi Wiratmaja mengatakan terjadinya bencana alam di Bali sebenarnya dapat diantisipasi, apabila masyarakat paham dan sadar lingkungan sejak dini. Karena itu pihaknya mengajak jurnalis untuk tidak menyalahkan alam ketika terjadi bencana.
“Banjir di Jembrana, dua kali terus kemarin banjir di Denpasar. Kami mengajak media tidak menyalahkan alam dan BMKG lagi,” ajaknya di Pelatihan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Peliputan Bencana Alam yang diinisiasi Jawa Pos TV Bali- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Quest Hotel San Denpasar, Sabtu, 4 September 20205.
Pelatihan ini melibatkan sebanyak 50 orang jurnalis (cetak, online, dan TV). Acara berlangsung selama 6 jam. Pematerinya adalah Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali Made Rentin, Kadek Setiya Wati dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar, Putu Eka Tulistiawan (Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Bali), I Made Dwi Wiratmaja (Stasiun Klimatologi Bali), dan Ni Luh Desi Purnami (Stasiun Geofisika Denpasar).
Dwi Wiratmaja jelaskan pengenalan iklim di Bali. Diuraikan, total ada 118 titik pengamatan hujan di seluruh Bali. Ada yang mengirimkan data hujan tiap 10 hari, lantas kirimkan data sampai pelosok Nusa Penida, Klungkung. Juga terkait cuaca, iklim, curah hujan, sifat hujan, dasarian, el nino, dan la nina.
’’Normal hujan, nilai rata-rata hujan 30 tahun. Ada 20 zona musim di Bali, dari tahun 1991-2020,’’ bebernya. Curah hujan January-Februari tinggi, dan naik lagi November- Desember. Artinya, fluktuatif, musim kemarau di pertengahan tahun, Juni sampai September. ’’Musim hujan Oktober- Desember sampai Februari. Jadi, pertengahan tahun musim kemarau,’’ jelasnya.
Direktur Jawa Pos TV Bali Ibnu Yunianto beberkan, tujuan pelatihan ini, guna mendorong Jurnalisme Solutif. Contohnya, ketika ada bencana (alam), jurnalis itu, tak hanya beberkan bencananya saja, tapi juga sajikan informasi yang penting bagi korban terdampak bencana. Sekaligus, bagi regulator atau masyarakat yang ingin memberi bantuan atau solusi atas bencana tersebut.
Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali Made Rentin menjelaskan seiring Peraturan Gubernur (Pergup) Bali 47/2019 soal Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, idealnya masalah bisa tuntas di rumah tangga dan tingkat desa. Sehingga, seluruh sampah organik tidak ada keluar rumah.
’’Sebab, bisa diatasi dengan teba modern, lubang kedalaman 1,5 sampai 2 meter, khusus menampung sampah organik di halaman menjadi pupuk untuk menyuburkan,’’ paparnya. Selain itu, Rentin paparkan, akan bangun krisis center sampah.
Kadek Setiya Wati menuturkan sesuai UU 31/2009 tugas BMKG melakukan pemantauaan untuk mendukung keselamatan jiwa dan raga.
’’Hal mendasar yang harus media paham istilah cuaca dan iklim. Jadi cuaca mengacu pada kondisi di sekitar kita sehari-hari yang lebih pesifik, kayak (seperti) cerah hujan dan lain-lain,’’ paparnya.
Sementara, iklim didefinisikan, rata-rata cuaca dalam jangka waktu yang panjang. ’’Cuaca itu berubah, seperti perempuan, sesuai mood-nya. Kalau iklim, seperti lelaki. Pola stabil,’’ guraunya disambut tawa peserta dan hadirin. Juga dicontohkan, cuaca ekstrem (cuek), dijelaskan sebagai fenomena alam. Di mana, terjadi kondisi tidak lazim. Sehingga, dapat menimbulkan ancaman.
Kemudian peserta diajak bedakan puting beliung dengan angin kencang. ’’Angin kencang sudah masuk cuaca ekstrem, 45 kilometer per jam. Kalau puting beliung itu, ada pusaran dari dasar awan cumulonimbus,’’ jelasnya. Ditambahkan, terkait banjirbandang di Bali, pada Rabu 10 September silam disebut karena ada faktor gelombang atmosfer aktif. Yaitu, gelombang rosdi, disebabkan topografi atau pemanasan sinar matahari.
