Balidalamberita.com, DENPASAR-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menjembatani petani kakao Kabupaten Tabanan dengan perbankan untuk mengembangkannya sebagai komoditas unggulan.
Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu, menjelaskan program pengembangan ekonomi daerah akan berkontribusi untuk menciptakan ekosistem usaha yang sehat yang bermanfaat bagi di industri jasa keuangan (IJK) dan petani kakao di Kabupaten Tabanan. Hal itu dapat dilakukan dengan dilakukannyaa proses hilirisasi, kepastian ketersediaan offtaker, komitmen penyediaan akses keuangan dan adanya pendampingan petani.
“OJK mengorkestrasi terciptanya kerja sama ini sebagai bagian dari program Kredit/Pembiayaan Sektor Prioritas (KPSP) Pertanian. Hal ini juga dapat direplikasi secara mandiri oleh Dinas Pertanian melalui TPKAD termasuk pengembangan di komoditas unggulan lainnya di sektor pertanian, tidak hanya kakao,” ujarnya dikutip lewat siaran pers, Jumat, 3 Oktober 2025.
OJK Bali memfasilitasi kerja sama pengembangan kakao PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali, PT Jamkrida Bali Mandara, Koperasi Manik Amerta Buana sebagai off taker serta Kelompok Tani Kakao Mesari, Lembung Sari, dan Subak Abian Waru bertempat di Balai Pelatihan Pertanian Kabupaten Tabanan, Selasa (30/9).
Penandatanganan dihadiri oleh Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan Gusti Ayu Shinta Oktaviani, Direktur Utama PT Jamkrida Bali Mandara I Ketut Widiana Karya, Kepala Divisi Kredit Retail dan Konsumer PT BPD Bali I Gede Sukanada, Kepala Cabang BPD Tabanan Made Adi Indra, dan Kepala Asuransi Central Asia (ACA) Pujo Pamungkas. Selain itu, hadir pula 30 anggota kelompok tani di wilayah Kabupaten Tabanan.
Menurut Puji, keterlibatan regulator merupakan dari Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Kabupaten Tabanan. Penandatanganan kerja sama ini merupakan salah satu bentuk komitmen bersama untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah yang berfokus pada komoditas kakao sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Tabanan.
Perkebunan kakao di Provinsi Bali mencapai 13.452 hektar. Perkebunan kakao di Kabupaten Tabanan tersebar di 10 kecamatan dengan total luas mencapai 4.530 hektar. Data BPS pada tahun 2024 juga menunjukkan bahwa Kabupaten Tabanan merupakan kabupaten dengan luas lahan kakao terbesar di Bali setelah Kabupaten Jembrana dengan jumlah produksi kakao mencapai 937 ton atau 19,46 persen dari total produksi di Bali yang mencapai 4.815 Ton pada tahun 2024.
Adapun penyaluran kredit di Bali pada sub sektor perkebunan kakao pada Agustus 2025mencapai Rp6,6 miliar dengan tingkat non performing loan (NPL) tetap terjaga di bawah 1 persen . Pada tahun 2024 juga telah dilakukan Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) komunitas kakao di Kabupaten Jembrana. Melalui program dimaksud juga telah disalurkan pembiayaan kepada petani kakao sebesar Rp1,39 miliar.
Dalam sambutan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Perkebunan I Gusti Ayu Sintha menyampaikan bahwa permodalan menjadi faktor penting dan sangat dibutuhkan oleh petani kakao di Kabupaten Tabanan. Dengan adanya modal maka petani dapat meningkatkan kualitas dan produktifitas hasil pertanian sekaligus mendukung program pemerintah daerah dalam menyejahterakan petani.
