LDR Kurang Dari 60 Persen
Balidalamberita.com, DENPASAR—Industri perbankan Bali masih kesusahan menyalurkan kredit ke masyarakat.
Ini terlihat dari tingkat loan to deposit ratio (LDR), posisi Februari 2026 masih sangat rendah, yakni sebesar 58,53 persen. LDR adalah rasio total kredit yang disalurkan oleh bank dibandingkan dengan total dana pihak ketiga (DPK) yang mereka terima dari masyarakat. Artinya dana di industri perbankan di Pulau Dewata saat ini masih melimpah atau over likuiditas. Penghimpunan DPK di Bali pada Februari 2026 tumbuh sebesar 6,05 persen mencapai Rp204,59 triliun yang ditopang naiknya simpanan tabungan senilai Rp6,53 triliun. Sementara penyaluran kredit berdasarkan lokasi bank tumbuh sebesar 6,47 persen menjadi Rp119,75 triliun.
Persentase LDR industri perbankan di Bali ini jauh di bawah rentang ideal yakni 78 persen hingga 9 persen yang menunjukkan keseimbangan sangat baik antara penyaluran kredit (fungsi intermediasi) dan menjaga likuiditas yang cukup. Situasi ini menunjukkan bahwa dana di perbankan di Bali saat ini masih cukup banyak dan belum terserap maksimal oleh masyarakat.
Kepala Kantor OJK Perwakilan Bali Parjiman mengakui persentase LDR masih rendah. Regulator, ungkapnya, tengah berupaya membuat bisnis matching yang mempertemukan antara pelaku bisnis dengan pelaku perbankan. Tujuannya mencari kecocokan sektor usaha apa saja yang bisa didanai oleh perbankan untuk meningkatkan penetrasi kredit.
“Kami juga mencoba mengembangkan ekonomi daerah dan melihat serta menganalisis komoditas apa saja yang menjadi DNA supaya bank bisa ikut mendanai,” jelasnya saat temu media di Denpasar.
Diakuinya angka di bawah 60 persen tersebut menunjukkan masih banyak duit ada di perbankan. Dia menekankan situasi ini menjadi pekerjaan rumah bagi regulator khususnya dirinya yang baru sebulan menjabat sebagai Kepala OJK Bali. Data OJK Bali menunjukkan berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit masih didorong oleh peningkatan kredit investasi yang tumbuh sebesar Rp6,32 triliun atau 17,81 persen, utamanya ditopang oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estat.
Peningkatan pada kredit investasi menunjukkan kontribusi perbankan dalam mendukung pembiayaan ekspansi usaha demi mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Provinsi Bali. Lebih lanjut, kredit konsumsi tumbuh 4,98 persen yoy dan kredit modal kerja termoderasi -2,45 persen yoy. Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, sebesar 51,32 persen kredit di Provinsi Bali disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan positif sebesar 4,71 persen yoy (Februari 2025: 4,86 persen yoy). Penyaluran kredit UMKM tersebut didominasi oleh segmen usaha mikro dengan porsi sebesar 42,17 persen dan segmen usaha kecil sebesar 37,43 persen. Penyaluran kredit UMKM di Provinsi Bali masih lebih tinggi dibandingkan tingkat nasional, baik dari porsi kredit maupun pertumbuhan.
Jika ditinjau berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit didominasi oleh sektor Bukan Lapangan Usaha sebesar 33,63 persen (tumbuh 4,98 persen yoy) dan Sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 27,24 persen (tumbuh 1,38 persen yoy). Pertumbuhan kredit disumbangkan oleh peningkatan nominal penyaluran di Sektor Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum yang bertambah sebesar Rp2,20 triliun (tumbuh 16,82 persen yoy) dan Sektor Penerima Kredit Bukan Lapangan Usaha sebesar Rp1,91 triliun (tumbuh 4,98 persen yoy).
