Ilustrasi Tradisi Siat Yeh (sumber foto: Instagram @pemkabbadung)
Balidalamberita.com, BADUNG – Tradisi Siat Yeh memiliki makna sebagai berikut, Kata “siat” memiliki arti perang yang hakekatnya adalah manusia pada kehidupan kesehariannya yang kerap berperang terutama bersama dirinya sendiri, terlebih pada keinginan baik atau buruk.
Sedangkan kata “yeh” atau air yang menjadi sumber bagi kehidupan manusia, sehingga tetap dijaga keberadaannya dan selalu dihormati.
Tradisi Siat Yeh merupakan salah satu tradisi yang menjadi pertemuan bagi 2 sumber Tirta atau yang disebut juga dengan mata air yang berada di Desa Adat Jimbaran.
- Tempat pertama, di pantai Suwung (air rawa) yang berlokasi di timur.
- Tempat kedua, di pantai Segara yang berlokasi di barat.
Oleh karena itu, berdasarkan kepercayaan warga lokal di tempat tersebut dengan menjaga ke-2 sumber air tersebut, maka warga setempat dapat memperoleh kesejahteraan.
Dilansir dari laman resmi Dinas Budaya Provinsi Bali, tradisi tersebut berlangsung sehari usai datangnya hari Raya Nyepi.
Acara ini biasanya diadakan oleh warga desa adat Jimbaran, terutama di Banjar Teba.
Berdasarkan situs Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Kemdikbud, maka warga Desa Adat Jimbaran selama seharian penuh melakukan Catur Brata Penyepian.
Sementara pada keesokan harinya, masyarakat lokal melakukan pertemuan warga dengan mengajak anak-anak untuk melakukan acara makecel-kecelan (main air) di Pura ulun Siwi.
Pada acara mekecel-kecelan atau orang-orang mengenalnya dengan main air, maka pemuda setempat akan dibagi kedalam dua kelompok.
Sementara untuk sebagian warga akan bermain di timur, adalah Suwung (rawa) dan sebagian warga lagi lainnya menuju arah barat atau berada di pantai segara.
Untuk lokasi yang berada di laut atau rawa, para penduduk tersebut kerap menyiramkan air ke satu kelompok hingga ke kelompok lainnya.(*)
