Oktober 15, 2026
Gook Sesapi

Tempat Pemandian Suci, Gook Sesapi di Desa Adat Duda. (baliexpress.jawapos.com)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Jika Anda sedang mencari lokasi pemandian air suci di Bali yang belum ramai, desa ini bisa menjadi referensi. Desa Adat Duda di Kecamatan Selat Kabupaten Karangasem punya Gook Sesapi.

Gook Sesapi adalah tempat pemandian air suci atau pengelukatan yang memanfaatkan aliran Tukad Sangsang dan gua sebagai daya tarik wisata. Lokasi tepatnya ada di Banjar Dinas Dalem, Desa Duda. Pengelukatan Gook Sesapi dilengkapi dengan lima pancuran yang di gunakan untuk ritual melukat, yang dipercaya dapat membersihkan diri dari pikiran negatif dan energi buruk. Selain itu, fasilitas lain yang tersedia meliputi enam bangunan sekaha pat, dua jembatan, dua kamar mandi, fasilitas tambahan seperti warung makan, area istirahat, dan area swafoto dengan latar belakang persawahan.

“Pengelukatan ini merupakan simbol dari Ida Bhatara Siwa sebagai pelebur sehingga siapapun yang melukat disana diharapkan dapat melebur pikiran negatif dan merasa lebih tenang,” ujar Bandesa Adat Duda, I Komang Sujana pada Sabtu, 5 April 2025.

Pembangunan tahap pertama objek wisata ini menelan biaya sekitar Rp 200 juta, didukung oleh program CSR (Corporate Social Responsibility). Desa Adat Duda berada pada ketinggian rata-rata 520 meter diatas permukaan laut dengan luas wilayah sekitar 6,75 kilometer persegi.

Desa ini tidak hanya punya Gook Sesapi. Adapula tradisi yang ada di Desa Adat Duda Siat Api atau yang dikenal sebagai “Perang Api”, adalah tradisi sakral yang diwariskan secara turun-temurun di Desa Adat Duda. Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang upacara Usaba Dalem, khususnya pada Sasih Kesanga dalam kalender Bali, yang bertepatan dengan Tilem (bulan mati).

Tujuan utama dari tradisi Siat Api adalah sebagai ritual pembersihan, baik secara sakala (fisik) maupun niskala (spiritual), untuk menetralisir energi negatif di lingkungan desa. Prosesi ini melibatkan krama (warga) laki-laki dari Desa Adat Duda yang terbagi menjadi dua kelompok, masing-masing berasal dari wilayah timur dan barat desa. Mereka berkumpul di Jembatan Tukad Sangsang, perbatasan antara Desa Duda dan Desa Duda Timur pada sandikala (menjelang malam).

Setiap peserta membawa prakpak, yaitu ikatan daun kelapa kering yang dibakar, dan saling melemparkan bara api tersebut satu sama lain. Meskipun tampak berbahaya, tradisi ini dijalankan dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian, serta diiringan doa dan ritual sebelumnya untuk memastikan keselamatan para pesertanya. Masyarakat meyakini bahwa melalui Siat Api mereka dapat membersihkan desa dari Keletehan (kotoran) dan Sarwa Mala (hal-hal negatif) yang mungkin mencemari wilayah mereka.

Tradisi Siat Api sempat terhenti pada tahun 1963 karena erupsi Gunung Agung dan situasi politik saat itu. Namun, tradisi ini dilaksanakan kembali pada tahun 2014 dan terus dilestarikan hingga saat ini. Dengan adanya tradisi ini tidak hanya memperkuat ikatan sosial antar warga, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang unik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan indahnya budaya Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *