Ilustrasi Perayaan Hari Raya Galungan & Kuningan.
Balidalamberita.com, DENPASAR – Pulau Bali tidak hanya dikenal karena pesona alamnya, tetapi juga karena kekayaan budayanya yang kental dengan nilai-nilai spiritual. Di antara berbagai hari suci umat Hindu di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan dua perayaan besar yang memiliki makna sangat dalam. Keduanya saling berkaitan dan dirayakan sebagai satu rangkaian yang menandai kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan) sekaligus menjadi momen penghormatan kepada leluhur.
Makna dan Filosofi Galungan-Kuningan
Perayaan Galungan dimaknai sebagai waktu ketika kekuatan kebaikan berhasil mengalahkan kekuatan kejahatan. Kata “Galungan” sendiri berasal dari kata “galung” yang berarti menang. Pada hari ini, umat Hindu memperingati kemenangan Dharma, serta menyambut kehadiran roh para leluhur yang diyakini turun ke dunia untuk menerima doa dan persembahan dari keturunannya.
Sepuluh hari setelah Galungan, umat merayakan Hari Raya Kuningan. Kata “Kuningan” berasal dari “kuning”, warna yang melambangkan kesucian dan kemuliaan. Hari ini menandai kembalinya roh leluhur ke alam niskala, dan menjadi saat untuk menutup siklus suci dengan rasa syukur dan harapan akan berkah dan perlindungan dari Tuhan. Kuningan juga memperkuat nilai-nilai spiritual dan mengingatkan pentingnya keharmonisan dalam kehidupan.
Jadwal Hari Raya Galungan dan Kuningan 2025
Hari Raya Galungan dan Kuningan dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Pawukon Bali. Galungan jatuh pada hari Buda Kliwon Dungulan, dan Kuningan dirayakan 10 hari setelahnya pada hari Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.
Jadwal 2025:
- Galungan: Rabu, 23 April & Rabu, 19 November 2025
- Kuningan: Sabtu, 3 Mei & Sabtu, 29 November 2025
Asal-Usul dan Legenda
Kisah Galungan berakar dari legenda tentang Mayadenawa, seorang raja yang menolak keberadaan Tuhan dan melarang rakyatnya melakukan sembahyang. Dalam mitologi Hindu Bali, Dewa Indra turun untuk mengalahkan Mayadenawa, dan kemenangan ini diperingati sebagai simbol kejayaan kebaikan atas kejahatan.
Perayaan Kuningan menyempurnakan makna Galungan, mengingatkan umat agar tetap berada di jalan Dharma dan selalu menyucikan batin serta hubungan dengan para leluhur. Keduanya menjadi satu rangkaian spiritual yang utuh.
Tradisi dan Simbol Sakral
Rangkaian Galungan dan Kuningan melibatkan berbagai upacara dan simbol yang sarat makna:
- Penyekeban: Tiga hari sebelum Galungan, umat menyimpan buah-buahan dan menyiapkan perlengkapan upacara.
- Penampahan Galungan: Satu hari sebelum Galungan, dilakukan penyembelihan babi dan pembuatan lawar sebagai bagian dari persembahan.
- Hari Galungan: Umat melaksanakan persembahyangan di pura dan rumah untuk menghormati Tuhan dan roh leluhur.
- Umanis Galungan: Sehari setelah Galungan, digunakan untuk silaturahmi dan berkunjung ke sanak keluarga.
Simbol paling mencolok dari Galungan adalah penjor, bambu tinggi yang dihias janur, bunga, dan hasil bumi, sebagai lambang gunung suci, kemakmuran, dan rasa syukur.
Saat Kuningan, umat Hindu melaksanakan persembahyangan sejak pagi hari karena diyakini para dewa dan roh leluhur hanya hadir hingga tengah hari. Persembahan khas Kuningan meliputi:
- Tamiang: Hiasan berbentuk lingkaran dari janur sebagai simbol perlindungan dan kemenangan Dharma.
- Endongan: Tas kecil dari janur berisi makanan sebagai simbol bekal untuk perjalanan roh.
- Nasi kuning: Dihaturkan sebagai lambang kemakmuran dan ucapan terima kasih.
Persembahan tidak hanya dilakukan di rumah dan pura, tapi juga di sawah, ladang, dan laut sebagai bentuk penghormatan kepada alam semesta.
Spiritualitas dalam Kehidupan Sehari-hari
Hari Raya Galungan dan Kuningan bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga merupakan refleksi spiritual bagi umat Hindu. Galungan mengingatkan pentingnya memilih jalan kebaikan dalam setiap aspek kehidupan. Sementara Kuningan menjadi penutup yang sarat makna, mengajak umat untuk bersyukur dan menguatkan niat hidup harmonis antara dunia sekala (nyata) dan niskala (spiritual).
Melalui perayaan ini, umat Hindu di Bali terus menjaga nilai-nilai warisan leluhur dan memperkuat jati diri spiritual di tengah perubahan zaman.
