Oktober 15, 2026
Tradisi Mejaga-jaga Bali

Tradisi Mejaga-jaga dari Desa Adat Gegelang (Sumber foto: Instagram @singarajaviral)

Balidalamberita.com, KARANGASEM – Bali dikenal luas karena kekayaan budaya dan tradisinya yang masih lestari hingga kini. Salah satu tradisi unik yang masih dijalankan adalah Mejaga-jaga, sebuah ritual sakral yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Apa Itu Tradisi Mejaga-jaga?

Mejaga-jaga merupakan tradisi kuno yang dipercaya mampu menetralisir roh-roh jahat yang bisa mengganggu kehidupan masyarakat. Tradisi ini digelar setahun sekali, tepatnya tiga hari menjelang Usaba Pura Dalem atau saat Tilem Sasih Kedasa (bulan mati pada bulan ke-10 dalam kalender Bali).

Peran Jero Gede: Sapi Suci dalam Ritual

Tradisi ini melibatkan seekor sapi jantan yang telah disucikan, dikenal dengan sebutan Jero Gede. Sebelum ritual utama dilakukan, sapi ini terlebih dahulu:

  • Dikebiri dan disucikan melalui rangkaian upacara.
  • Mengalami perubahan warna dari hitam menjadi merah selama proses sekitar tiga bulan.
  • Diberi nama Jero Gede setelah dinyatakan suci dan siap untuk upacara.

Rangkaian Prosesi Mejaga-jaga

  1. Matur Piuning
    Pada hari Tilem Sasih Kedasa, Jero Gede dibawa ke tiga pura dalam lingkup Kahyangan Tiga, dimulai dari Pura Puseh. Di sana dilakukan matur piuning, yaitu memohon restu agar upacara berjalan lancar.
  2. Mepurwa Daksina & Ritual Cambuk
    Setelah matur piuning, Jero Gede mengelilingi pura tiga kali (mepurwa daksina) dan dicambuk dengan sabit hingga darah keluar dari kaki kanannya sebagai simbol penyucian dan pengorbanan.
  3. Penyembelihan di Pempatan Agung
    Usai prosesi di Pura Puseh dan Pura Dalem, Jero Gede dibawa ke Pempatan Agung, tempat penyembelihan yang dilakukan oleh prajuru atau warga desa. Proses ini disaksikan oleh masyarakat dan menjadi bagian penting dari ritual.
  4. Jero Gede Sebagai Caru
    Setelah disembelih, Jero Gede dijadikan caru (hewan persembahan) untuk menetralisir kekuatan negatif yang dipercaya dapat mengancam keharmonisan desa.

Tradisi yang Tak Pernah Terputus

Masyarakat Desa Adat Gegelang sangat menjaga warisan leluhur ini. Bahkan saat pandemi COVID-19 tahun 2020, mereka tetap melaksanakan ritual Mejaga-jaga dengan penuh kehati-hatian karena diyakini, jika tidak dilaksanakan, akan membawa malapetaka bagi desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *