
Balidalamberita.com, BANGLI – Desa Pakraman Susut adalah salah satu desa di Bali yang berperan aktif dalam suatu komunitas yang memajukan tradisi Maedeng.
Tradisi Maedeng biasanya berlangsung dua pekan menjelang perayaan Nyepi serta melibatkan seluruh peternak sapi yang ada di desa tersebut.
Sehingga pemilik sapi wajib membawa godel (anak sapi) supaya dapat dipilih menjadi persembahan untuk upacara Tawur Agung Kasanga.
Tim seleksi yang terdiri atas prajuru desa selanjutnya menjalankan seleksi dalam memilih sepasang godel terbaik, baik jantan atau betina, yang nantinya akan menjadi persembahan pada upacara Tawur Agung Kasanga.
Asal Usul Tradisi Maedeng
Tradisi Maedeng mempunyai akar dalam cerita leluhur, di mana pada zaman dulu, desa ini dilanda oleh wabah penyakit mematikan dan paceklik yang terus berkepanjangan.
Sebuah pawisik muncul, memberikan saran supaya masyarakat desa mempersembahkan sepasang godel pada setiap pagelaran Tawur Kasanga.
Keyakinan dan kepercayaan akan persembahan tersebut membuat tradisi Maedeng tetap dijaga dan dilestarikan sampai sekarang ini.
Manfaat dari Godel yang Terpilih
Bagi masyarakat yang godel miliknya dinyatakan terpilih dalam proses persembahan, maka dianggap memiliki kehormatan dan memperoleh keberkahan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Godel yang terpilih dipercaya bisa memperoleh kesempatan dalam peningkatan derajat karena dijadikan korban suci pada saat upacara tawur.
Sebagai pengganti, desa tersebut memberikan ganti rugi berdasarkan harga yang berlangsung di pasaran terhadap pemilik godel.
Larangan yang Perlu Dihindari
Menurut kepercayaan setempat, jika godel yang belum ikut dalam tradisi Maedeng maka sangat pantang untuk dijual karena bisa memperoleh musibah.
Bahkan jika tidak dijual dan tetap dilakukan pemeliharaan, juga diyakini bisa menimbulkan pengaruh negatif.
Berdasarkan keyakinan tersebut mendorong masyarakat Desa Pakraman Susut untuk tetap menjaga dan ikut pada tradisi Maedeng setiap tahunnya yang penuh dengan keistimewaan.
