Desa Wisata Blimbingsari (pariwisata.jembranakab.go.id).
Balidalamberita.com, JEMBRANA – Pernah membayangkan merayakan Natal di sebuah desa kecil, tenang, dan dikelilingi hutan tropis, dengan penjor menjulang di depan rumah-rumah, dan gereja megah berhias ukiran khas Bali? Selamat datang di Desa Wisata Blimbingsari, permata religi di ujung barat Pulau Dewata.
Desa ini bukan sekadar tempat beribadah Blimbingsari adalah kisah nyata tentang harmoni antara iman Nasrani dan budaya Bali yang hidup berdampingan secara alami.
Gereja, Tapi Berjiwa Bali
Jika biasanya gereja identik dengan menara lonceng dan arsitektur Eropa, Blimbingsari justru mempersembahkan sebuah gereja dengan atap meru bertingkat, pintu ukir gaya Ubud, dan ornamen cerita Injil dalam wujud relief khas Bali. Semua dibangun oleh tangan-tangan seniman lokal.
Di sinilah spiritualitas dan budaya menyatu, memberi pengalaman religius sekaligus artistik bagi siapa pun yang datang.
Trekking Menyusuri Hutan, Menemukan Jalak Bali
Tak hanya sarat nilai religi, desa ini juga surganya pecinta alam. Jalur trekking di Blimbingsari mengantar wisatawan menyusuri hutan lebat yang masih alami. Dengan sedikit keberuntungan, kamu bisa menjumpai sang primadona Jalak Bali burung langka bercorak putih yang menjadi simbol Taman Nasional Bali Barat.
Bayangkan, habis ibadah pagi di gereja, lanjut trekking sore sambil menyapa burung eksotis di habitat aslinya!
Tradisi Natal Bertabur Penjor & Lawar
Menjelang 25 Desember, suasana desa ini berubah jadi semarak dan magis. Umat Kristiani di Blimbingsari menghias penjor layaknya umat Hindu saat Galungan dan mengolah lawar khas Bali untuk disajikan di perayaan Natal.
Tradisi unik ini jadi bukti bahwa perbedaan bisa dirayakan dalam harmoni. Natal di sini terasa lebih hangat, lebih menyentuh, dan tentu saja: lebih Bali.
Itulah tadi Keistimewaan Desa Wisata Blimbingsari yang bisa kami sampaikan, semoga informasi tadi bisa bermanfaat bagi kamu yang ingin pergi ke Bali.(*)
