Ilustrasi Upacara Pemrayasista (Sumber foto: Instagram @karangasemterkini)
Balidalamberita.com, KARANGASEM – Suasana Pura Agung Besakih pada Senin, 14 April 2025, sempat ternoda oleh insiden pemukulan terhadap seorang pecalang yang tengah menjalankan tugas suci dalam rangkaian Karya Agung Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) 2025. Kejadian ini tidak hanya melukai fisik, tetapi juga menyentuh aspek kesakralan kawasan suci.
Sebagai bentuk tanggung jawab spiritual dan adat, pihak Desa Adat Besakih segera menggelar upacara pemrayasista di lokasi kejadian, sebuah ritual penting untuk menetralisir energi negatif serta mengembalikan kesucian kawasan pura.
Tujuan Upacara Pemrayasista
Upacara ini dilaksanakan bukan sekadar tradisi, namun sebagai wujud pemulihan spiritual atas insiden yang terjadi di tempat suci. Ada dua tujuan utama dari pelaksanaan pemrayasista:
- Mengembalikan kesucian pura yang sempat ternodai oleh tindakan kekerasan.
- Menetralisir pengaruh jahat dan energi negatif dari lokasi kejadian.
Pelaksanaan upacara ini telah diputuskan dalam paruman desa yang melibatkan seluruh unsur adat, mulai dari prajuru, perbekel, pemangku, pecalang, hingga tokoh masyarakat.
“Kami sangat menyayangkan insiden ini. Proses hukum harus berjalan, dan pelaku harus diberi efek jera agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tegas Jro Mangku Widiartha, Bendesa Adat Besakih.
Pacaruan Panca Sata: 5 Ayam, 7 Pemangku, dan Banten Lengkap
Upacara pemrayasista dilangsungkan pada Selasa, 15 April 2025 (Anggara Paing Sungsang) pukul 17.00 WITA, dipimpin oleh Jro Gede Artayasa, Penasihat Panitia Karya Agung IBTK.
Prosesi ini merupakan Pacaruan Panca Sata, menggunakan lima jenis ayam sebagai simbol warna penjuru mata angin:
- Ayam Brumbun (berwarna campuran)
- Ayam Hitam
- Ayam Kuning
- Ayam Merah
- Ayam Putih
Didampingi dengan rangkaian banten sakral, seperti:
- Banten Sasayut
- Jaga Satru Sapuh Awu
- Kala Simpang
- Pemiak dan Pemoga Kala
- Pengulap dan Penundung Kala
- Pengambilan dan Suci
Tujuh pemangku memimpin prosesi pratista mandala untuk memulihkan kesucian kawasan:
- Jro Mangku Caguan
- Jro Mangku Eka Puja
- Jro Mangku Gunatri
- Jro Mangku Kariasa
- Jro Mangku Marsi
- Jro Mangku Was
- Jro Mangku Wisnu
Desa Adat Komit Menjaga Kesucian Pura
Kasus ini kini menjadi perhatian serius Desa Adat Besakih, yang berkomitmen mengawal proses hukum agar keadilan ditegakkan. Di saat bersamaan, pelaksanaan ritual pemrayasista menegaskan bahwa kawasan suci harus tetap steril dari energi buruk fisik maupun spiritual.
Upacara pemrayasista bukan hanya menyucikan tanah pura, tapi juga menyucikan niat umat. Inilah cara Bali merawat keharmonisan antara manusia, alam, dan roh leluhur.
