
Balidalamberita.com, GIANYAR – Upacara “Ngedeblag” di Desa Adat Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Gianyar adalah tradisi kuno yang diadakan sebagai bentuk doa dan harapan bagi keselamatan umat manusia dan alam.
“Ngedeblag” mempunyai tujuan dalam penyelarasan hubungan yang terjadi diantara bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (manusia).
Upacara “Ngedeblag” tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga merupakan memohon keselamatan dan simbol keharmonisan yang terjalin diantara sesama manusia dan alam sekitar beserta isinya.
Dengan melestarikan tradisi ini, warga Desa Adat Kemenuh memiliki harapan agar dapat menjaga keseimbangan dari ekologis dan spiritual, serta dalam memperkuat ikatan antargenerasi dalam menjaga warisan budaya adat Bali yang ada.
Setiap tahun, ketika tilem sasih kelima tiba, masyarakat Desa Adat Kemenuh berkumpul di Pura Dalem dalam mengikuti upacara yang secara turun-temurun tetap dilestarikan.
Lantas bagaimana prosesi ini bisa dijalankan? Simak penjelasan berikut ini.
Melakukan Pecaruan
Ritual dimulai dengan pecaruan yang berlangsung di Pura Dalem, di mana masyarakat bersembahyang bersama dan menyajikan banten yang merupakan tanda penghormatan terhadap para dewa.
Mengenakan Pakaian Seram
Selanjutnya, masyarakat mengenakan pakaian seram dengan melintasi desa sembari membawa pretima, barong, dan bahkan alat musik tradisional.
Pada upacara “Ngedeblag”, masyarakat mengenakan pakaian khas yang menyeramkan menggunakan dekorasi wajah dengan motif “Aeng” dalam menyebarkan hal-hal negatif.
