Oktober 16, 2026
Tradisi Nyaagang yang menjadi penutup persembahyangan hari raya Kuningan di Klungkung. (balisaja.com/Kadek Sandi)

Balidalamberita.com, KLUNGKUNG – Tradisi nyaagang merupakan rangkaian upacara terakhir yang dilaksanakan pada Hari Raya Kuningan di Desa Tojan, Klungkung, Bali.

Tradisi yang secara turun temurun sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan identitas budaya adat di Klungkung.

Nyaagang dipercaya menjadi jalan dalam mengantarkan roh para leluhur kembali menuju nirwana, sebagai momen yang sangat dihormati dan diantisipasi oleh warga lokal.

Tradisi yang kaya dengan makna dan warisan budaya adat Bali ini senantiasa dilestarikan dan dijaga dengan penuh kehormatan.

Pelaksanaan dari tradisi ini berlangsung pada siang hari pukul 12.00 tepatnya di depan pintu rumah masing-masing.

Dalam melakukan tradisi ini menggunakan sarana khusus, nyaagang diisi dengan banten saagan yang terdiri atas sesajen. Sesajian tersebut diantaranya meliputi berbagai macam makanan seperti jajanan kering, jagung, nanas, dan daging.

Tidak hanya makanan, unsur yang tidak boleh terlewatkan di banten saagan, yaitu batang tebu.

Batang tebu tersebut mempunyai makna simbolis yang mendalam merupakan sarana dalam memikul bekal pada Galungan dan Kuningan.

Dipercaya jika batang tebu tersebut dapat membawa rejeki dengan menggunakan perantara batang tersebut.

Melalui nyaagang, warga Klungkung bukan hanya menghormati leluhur, namun juga menjaga dan merayakan kekayaan budaya yang sudah diberikan oleh nenek moyang mereka.

Tradisi tersebut bukan hanya sebagai warisan berharga untuk Klungkung, namun juga menjadi bagian penting dari keberagaman budaya Indonesia yang patut dipertahankan dan dilestarikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *