Ada satu persoalan yang hampir selalu muncul ketika kita berbicara tentang UMKM digital marketing Bali: banyak yang tahu harus go digital, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Webinar sudah ditonton. Konten motivasi sudah dibaca. Tapi iklan tetap belum jalan, akun Meta Ads masih kosong, dan produk yang sebetulnya bagus terus tenggelam di antara kebisingan media sosial.
Inilah yang membuat kolaborasi antara Nawaha dan Rumah BUMN Denpasar menarik untuk dibicarakan, bukan sebagai berita, melainkan sebagai cermin tentang apa yang sebetulnya dibutuhkan pelaku usaha kecil hari ini.

Bukan Workshop Biasa
Formulanya sederhana tapi tidak lazim: empat kali pertemuan offline, bukan sekali jadi. Peserta tidak hanya mendengarkan presentasi tentang “pentingnya iklan digital.” Mereka duduk, membuka laptop atau ponsel, dan langsung mengerjakan.
Owner Nawaha hadir bukan sebagai pembicara yang naik panggung lalu pergi. Ia hadir sebagai pendamping — memandu langkah demi langkah, dari membuat akun Meta Ads, memahami struktur kampanye, menentukan target audiens, hingga membaca data dan mengoptimalkan iklan yang sudah berjalan.
Hasilnya bukan sekadar peserta yang “paham secara teori.” Hasilnya adalah pelaku UMKM digital marketing Bali yang bisa menjalankan iklannya sendiri, tanpa harus bergantung pada jasa pihak ketiga yang tidak selalu terjangkau oleh skala bisnis mereka.
Mengapa Ini Penting
Saya perlu jujur: ada banyak program pelatihan digital untuk UMKM di Indonesia. Sebagian besar menghasilkan sertifikat dan foto bersama. Tidak banyak yang menghasilkan iklan yang benar-benar berjalan.
Perbedaan yang dibuat oleh Nawaha dalam program ini terletak pada satu hal: komitmen untuk tidak pergi sebelum peserta bisa berdiri sendiri.
Empat sesi offline itu bukan kemewahan, itu keharusan. Karena belajar Meta Ads bukan seperti belajar teori. Ia seperti belajar berkendara: harus dicoba, harus salah, harus diperbaiki, dan harus dicoba lagi. Dalam satu sesi, hal itu hampir tidak mungkin terjadi.
Selain itu, setting offline memberi ruang untuk sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh video tutorial: pertanyaan spesifik tentang situasi bisnis masing-masing peserta. Produk satu UMKM berbeda dari UMKM lainnya. Target pasar berbeda. Anggaran berbeda. Pendampingan yang baik harus bisa merespons perbedaan itu secara langsung.

Batur: Branding Sebelum Iklan
Yang juga menarik dari pergerakan Nawaha adalah keterlibatannya dengan UMKM di Batur, kawasan yang selama ini lebih dikenal sebagai destinasi wisata alam daripada sebagai ekosistem bisnis yang matang secara digital.
Di sini, pendekatannya berbeda. Sebelum berbicara tentang iklan, pembicaraan dimulai dari branding, identitas bisnis, narasi produk, dan cara UMKM lokal memposisikan dirinya di pasar yang semakin penuh sesak.
Ini adalah urutan yang benar. Iklan tanpa branding yang kuat hanya akan mempercepat laju pengeluaran tanpa mempercepat pertumbuhan. Mengajarkan branding terlebih dahulu kepada UMKM Batur adalah keputusan yang mencerminkan pemahaman mendalam tentang tahap kematangan bisnis yang berbeda-beda.
Yang Bisa Dipelajari dari Kolaborasi Ini
Bagi saya, ada tiga hal yang layak dijadikan catatan dari kolaborasi Nawaha dan Rumah BUMN Denpasar ini.
Pertama, format pelatihan berseri lebih efektif dari pelatihan satu hari, terutama untuk topik teknis seperti UMKM digital marketing Bali yang membutuhkan praktik berulang.
Kedua, kolaborasi antara ekosistem bisnis swasta dan program pemerintah seperti Rumah BUMN bisa menghasilkan sesuatu yang konkret, bukan sekadar seremonial, ketika keduanya punya komitmen yang sama terhadap hasil.
Ketiga, relevansi lokal itu penting. Program yang dirancang dengan memahami konteks UMKM Bali, baik dari sisi budaya, skala bisnis, maupun tingkat literasi digital, jauh lebih berdampak dari program generik yang dikopi dari kota besar.
Penutup
UMKM digital marketing Bali bukan topik yang kekurangan wacana. Yang sering kurang adalah tindakan yang terukur, konsisten, dan benar-benar menghasilkan kapasitas baru di tangan pelaku usahanya.
Nawaha dan Rumah BUMN Denpasar memilih untuk melakukan yang kedua. Dan itu, menurut saya, adalah arah yang tepat.
