Ilustrasi tradisi menggantung ari-ari bayi di Desa Bayung Gede (Sumber Foto: Facebook Punapi Bali)
Balidalamberita.com, BANGLI – Kabupaten Bangli dikenal memiliki sejumlah desa kuno yang kaya akan tradisi dan kebudayaan yang sangat unik. Masyarakatnya menganut kepercayaan kebudayaan Bali Aga atau dikenal juga dengan Bali Mula.
Bali Aga merupakan budaya Bali yang telah ada sebelum orang-orang Jawa yang berasal dari keturunan Majapahit datang ke Bali.
Desa-desa kuno tersebut banyak tersebar di wilayah Kecamatan Kintamani. Bahkan di daerah ini, banyak ditemukan peninggalan atau situs kuno yang menggambarkan kehidupan warga Bali kuno.
Salah satu desa kuno yang berada di wilayah Kintamani yaitu Desa Bayung Gede.
Berikut ini penjelasan seputar Desa Bayung Gede dengan segala keunikan tradisinya, yaitu:
- Lokasi Desa Bayung Gede
Desa Bayung Gede terdiri atas 1 desa dinas, 1 desa pakraman, serta 1 banjar dinas dan 1 banjar pakraman.
Bagi yang ingin mengunjungi Desa tersebut bisa melalui jalur jalan Payangan-Kintamani atau mengikuti jalan Bangli-Kintamani.
Berada dari pusat Kota Denpasar, desa tersebut berlokasi sekitar 55 Km atau 35 Km dari pusat Kota Bangli.
- Dikenal Memiliki Tradisi yang Sangat Unik
Desa Bayung Gede dikenal masih memegang erat kebudayaan Bali Aga.
Salah satunya yaitu tradisi menggantung ari-ari bayi yang diletakan di sebuah pohon kayu bukak.
Tradisi tersebut menjadi suatu aturan kebudayaan di Desa Bayung Gede yang harus dipatuhi dan tetap dipertahankan sampai sekarang ini.
Menggantung ari-ari bayi yang baru dilahirkan dilakukan di sebuah kuburan atau Setra Ari-Ari.
Setra Ari-Ari adalah area khusus dalam “menguburkan” ari-ari bayi. Tetapi, ari-ari tidak dikubur seperti biasanya, namun hanya digantung di ranting pohon bukak.
Ari-ari bayi yang baru dilahirkan kemudian dibersihkan atau disucikan terlebih dulu. Kemudian, ari-ari tersebut dimasukkan ke dalam suatu batok kelapa yang telah diberi rempah-rempah khusus beserta kapur sirih. Batok tersebut juga bertuliskan nama supaya tidak mengalami benturan nama.
Kemudian Batok digantung dalam suatu pohon bukak, ari-ari yang digantung ini dibiarkan begitu saja tidak mengalami perawatan khusus. Meskipun terjatuh, batok ari-ari tersebut tetap dibiarkan begitu saja.
Pohon bukak yang dijadikan lokasi digantungnya ari-ari ini dipercaya warga sekitar mempunyai fungsi dalam menyerap bau yang menyengat. Oleh sebab itu walaupun tengah berada di setra atau kuburan maka ada banyak ari-ari yang digantung, bahkan ari-ari ini sudah berusia sangat lama tetapi sama sekali tidak menimbulkan bau yang tidak sedap.
Bahkan warga desa menyakini tradisi tersebut berhubungan erat dengan mitologi terkait asal mula dari desa ini. Bahkan, tradisi tersebut diyakini bisa melindungi atau menjaga bayi secara magis. Sehingga bayi dapat tumbuh dewasa bahkan terhindar dari penyakit atau bahkan tidak mengalami gangguan makhluk halus.
Namun, jika ada masyarakat yang tidak melakukan tradisi tersebut maka akan dikenai denda sekitar 200 keping uang bolong.
Selain itu, mereka perlu melakukan upacara masayut atau yang dikenal dengan upacara dalam membersihkan pekarangan untuk lokasi ari-ari tersebut ditanam.
Tradisi dalam menggantung ari-ari yang berlangsung di Desa Bayung Gede mempunyai daya tarik bagi wisatawan.
