Oktober 15, 2026
Sekaa Roras

Sekaa Roras di Desa Adat Lebu, Desa Lokasari (istimewa)

Balidalamberita.com, KARANGASEM – Desa Adat Lebu, yang terletak di Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, terus melestarikan tradisi sakral Sekaa Roras sebagai bagian dari rangkaian upacara Dewa Yadnya, yakni Ngusaba Desa, Ngusaba Dalem, dan Nyepi Adat yang digelar pada 22–26 Juni 2025.

Tradisi ini tidak hanya menjadi persembahan spiritual, tetapi juga sebagai penegasan identitas adat dan penghormatan terhadap leluhur.

Makna dan Tujuan Tradisi Sekaa Roras

Tradisi Sekaa Roras bertujuan mempertegas jati diri warga desa adat melalui prosesi nunas agentos wasta (pergantian nama). Nama yang dipilih biasanya menyisipkan identitas leluhur, sebagai pengingat dari keluarga mana seseorang berasal.

“Nama yang digunakan diharapkan menyisipkan nama leluhur atau tetua keluarga. Ini menjadi pengingat dari mana ia dilahirkan,” ungkap I Wayan Darmanta, Bendesa Adat Lebu yang juga menjabat sebagai Ketua MDA Kecamatan Sidemen.

Persyaratan dan Keistimewaan Sekaa Roras

Setiap pelaksanaan Ngusaba Desa melibatkan 12 orang sekaa roras yang mengajukan diri sebagai ngayah (pengabdian suci). Syaratnya cukup ketat: telah menikah, sudah metatah (potong gigi) baik suami maupun istri, telah aktif dalam kehidupan sosial, dan lepas dari tanggungan orang tua.

Selama 12 hari, para sekaa roras melakukan mekemit (bermalam di pura) dan tinggal di Bale Agung, tempat suci tempat Pralingga Ida Bhatara berstana. Mereka bangun pagi, mandi ke beji, sembahyang, dan melantunkan kidung suci di Pura Puseh.

“Sekaa Roras bukan orang sembarangan. Mereka diupacarai dan disucikan sebelum ngayah. Setiap hari mereka mekêmit di Bale Agung, tempat yang sangat disakralkan,” tambah Darmanta.

Tugas Sakral Sekaa Roras

Sekaa Roras bertanggung jawab atas seluruh persiapan sarana upacara Ngusaba, seperti:

  • Mengumpulkan pala gantung (buah) dan pala bungkah (umbi-umbian) dari warga.
  • Menghaturkan jro gede (babi) sebagai sesajen utama. Dagingnya ditimbang menjadi enam bagian menggunakan sesuhunan, benda sakral yang diwariskan turun-temurun.
  • Mencari daun aren untuk membuat Sang Hyang Pering, manifestasi Dewi Sri. Mereka melakukan prosesi nunas daun aren secara sakral ke bukit di daerah Jaka Tebel, tanpa membiarkan daun jatuh ke tanah, sambil melantunkan kidung suci menuju Pura Puseh.

Puncak Tradisi: Mengarak Sang Hyang Pering

Pada hari terakhir upacara, Sekaa Roras mengarak Sang Hyang Pering mengelilingi Pura Puseh dan Bale Agung. Masyarakat menyambut mereka dengan sorak-sorai sambil melemparkan canang sebagai simbol berkah dan doa.

Makna Sosial dan Spiritualitas

Tradisi Sekaa Roras bukan hanya tentang pelaksanaan ritual, tetapi juga menyatukan nilai spiritual, adat, dan sosial masyarakat Bali. Melalui tradisi ini, warga berharap hasil bumi selalu berlimpah dan kehidupan desa tetap sejahtera.

Sekaa Roras menjadi simbol pengabdian tulus, regenerasi nilai adat, serta pengikat harmoni antara manusia, alam, dan leluhur di tanah Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *