Oktober 15, 2026
Ilustrasi Tari Pendet (Foto: Indonesia Kaya)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Tari Pendet adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang paling ikonik, berasal dari Bali. Lebih dari sekadar pertunjukan seni, tarian ini membawa sejarah panjang, filosofi mendalam, dan evolusi fungsi yang menjadikannya simbol tak terpisahkan dari Pulau Dewata.

Pada awalnya, Tari Pendet bukanlah sebuah tarian pertunjukan, melainkan bagian dari ritual keagamaan (Tari Wali) yang dilakukan di Pura (tempat ibadah umat Hindu Bali).

Tarian ini berfungsi sebagai tari pemujaan yang melambangkan penyambutan atas turunnya para dewata (Dewa-Dewi) ke alam dunia saat upacara.

Pendet awal bersifat sakral-religius. Para penari, yang bisa terdiri dari semua orang (pemangku pria/wanita, dewasa, atau gadis), membawa berbagai perlengkapan sesajen seperti bokor berisi bunga, sangku, kendi, atau cawan, sebagai persembahan.

Aksi menaburkan bunga oleh para penari di akhir tarian adalah simbol ucapan syukur dan penghormatan.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan kebutuhan masyarakat, terutama di bidang pariwisata, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi bentuk yang lebih modern, yang dikenal sebagai Tari Balih-balihan (tari hiburan).

Bentuk modern Tari Pendet dikembangkan oleh maestro tari I Wayan Rindi bersama dengan Ni Ketut Reneng pada sekitar tahun 1950-an.

Fungsi utamanya bergeser menjadi tari penyambutan atau ucapan selamat datang bagi tamu-tamu penting atau dalam acara-acara resmi.

Pada tahun 1962, Tari Pendet kembali dikembangkan oleh I Wayan Beratha dengan menambah jumlah penari dan koreografi, kemudian dipentaskan secara massal (hingga 800 penari) sebagai salah satu acara pembukaan Asian Games IV di Jakarta, yang sekaligus memperkenalkannya ke kancah dunia.

Tari Pendet telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Kebudayaan Tak Benda.

Meskipun telah beralih fungsi menjadi tari penyambutan, Pendet tetap mempertahankan unsur-unsur kesakralan dan kekhasan Bali.

Para penari, yang mayoritas adalah wanita, selalu membawa bokor (wadah perak/kuningan) berisi bunga. Bunga-bunga ini akan ditaburkan pada akhir pertunjukan.

Mengenakan pakaian upacara tradisional Bali, seperti kamen, selendang (gelang), dan hiasan kepala dengan bunga kamboja atau emas.

Diiringi oleh musik tradisional Gamelan Bali, khususnya Gamelan Gong.

Gerakan Tari Pendet bersifat lincah, dinamis, dan mengalir, menggambarkan keramahan, kegembiraan, dan rasa syukur.

Nyeledet (Lirikan Mata) : Lirikan mata tajam ke kanan dan kiri, melambangkan kewaspadaan dan keindahan ekspresi khas tari Bali.

Ngagem (Sikap Dasar) : Sikap dasar berdiri yang melambangkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Ngumbang : Gerakan berjalan ke depan dengan belok kanan dan kiri, diikuti ngentrag (menggertak).

Tabur Bunga : Gerakan menaburkan bunga ke arah penonton, yang merupakan inti dari fungsi penyambutan dan penghormatan.

Secara keseluruhan, Tari Pendet adalah sebuah persembahan budaya yang memancarkan rasa syukur kepada Dewata, penghormatan kepada tamu, serta kebebasan dan kesuburan alam, menjadikannya cerminan identitas spiritual dan keramahan masyarakat Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *