Oktober 15, 2026
25

Tradisi Mbed-mbedan dari Desa Adat Semate. Balidalamberita.com/Istimewa.

Balidalamberita.com, DENPASAR – Ngembak Geni adalah hari suci bagi umat Hindu yang dilaksanakan sehari usai datangnya Hari Raya Nyepi.

Ngembak Geni adalah sebagai penanda berakhirnya penyelenggaraan Catur Brata Penyepian. Pada hari suci tersebut, Biasanya terdapat banyak sekali tradisi kebudayaan usai Nyepi berakhir.

Misalnya: Tradisi Mbed-mbedan yang biasanya berlangsung di Kabupaten Badung. Berikut ini tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun di Desa Adat Semate, yaitu:

  1. Tradisi Mbed-mbedan berasal dari Desa Adat Semate

Tradisi Mbed-mbedan yaitu berasal dari Desa Adat Semate, Desa Abianbase, Kecamatan Mengwi.

Melalui Raja Purana Desa Adat Semate, Tradisi Mbed-mbedan diselenggarakan untuk memberikan penghormatan kepada bhisama (perintah) Mpu Bantas.

Selain itu, tradisi ini untuk mengenang didirikannya desa adat dan Pura Kahyangan Putih Semate. Ketika didirikannya Pura Kahyangan Putih Semate, mengalami suatu tarik-ulur pendapat terkait nama pura.

Selanjutnya Mpu Bantas memberikan sebuah nama Pura Kahyangan Putih Semate, dan meminta penduduk setempat setiap tahunnya agar mengadakan Tradisi Mbed-mbedan supaya mereka lebih ingat terkait kejadian tarik-ulur pendapat yang sempat berlangsung tersebut.

  1. Sejarah didirikannya Desa Adat Semate dan Pura Kahyangan Putih Semate

Tradisi Mbed-mbedan memiliki keterkaitan dengan sejarah dari berdirinya Desa Adat Semate dan Pura Kahyangan Putih Semate.

Awal mula terjadi sebuah perselisihan dari Kerajaan Waturenggong. Satu anggota keluarga kerajaan tersebut memilih untuk meninggalkan Kerajaan Waturenggong dan menuju ke sebuah tempat yang aman.

Anggota keluarga tersebut diantaranya, yaitu: Sanak Sang I Gusti Pasek Gelgel.

Anggota keluarga tersebut memilih untuk menetap di sebuah hutan rimba yang terkenal mistis, di sana banyak terdapat kayu putih yang terletak di selatan Desa Kapal.

Mpu Bantas datang menuju hutan kayu putih dan di sana ia bertemu dengan warih Gni Jaya yang dikenal sebagai putra dari Ki Pasek Gelgel.

Mpu Bantas akan memberikan suatu saran supaya membangun suatu tempat pemujaan. Tempat pemujaan tersebut yang sekarang ini dikenal sebagai Pura Kahyangan Putih Semate.

Nama Semate yang diberikan oleh Mpu Bantas, yang memiliki arti warga yang sudah mempunyai keteguhan serta pendirian agar tinggal sehidup semati di lokasi tersebut.

Selanjutnya, Desa Adat Semate dan Pura Kahyangan Semate diberikan nama oleh Mpu Bantas.

Tetapi sempat mengalami tarik ulur dalam memberikan nama ini, Hal tersebut yang selanjutnya menjadi latar belakang berlangsungnya Tradisi Mbed-mbedan.

Mbed-mbedan sendiri mempunyai arti saling tarik-menarik diantara dua orang ataupun kelompok.

  1. Pelaksanaan Tradisi Mbed-mbedan mirip dengan tarik tambang

Jika menyaksikan pelaksanaan tradisi tersebut, maka akan terlihat seperti orang yang tengah melaksanakan tarik tambang.

Tradisi tersebut dilakukan mulai jam 09.00 Wita yang berlangsung di depan Pura Puseh dan pura desa setempat.

Pada tradisi tersebut, baik pria atau perempuan berkumpul dalam melaksanakan tradisi tersebut.

Tradisi Mbed-mbedan memakai tali dari tanaman yang dikenal juga dengan sebutan bun kalot.

Tanaman merambat yang menyerupai tali tersebut kemudian tumbuh di sekitar area kuburan yang ada di Desa Adat Semate.

Pemakaian bun kalot telah dilakukan sejak pertama kali tradisi tersebut berlangsung maka para pemangku akan menghaturkan sebuah sarana upacara, maka tradisi tersebut akan langsung dimulai.

Pada tradisi tersebut, diawali bersama dengan para pemangku pria dan wanita (istri dari pemangku lelaki).

Selanjutnya tarik menarik yang dilanjutkan oleh kelompok lain dari penduduk setempat.

Kelompok inilah yang akan melakukan tarik-menarik seperti halnya permainan tarik tambang.

Tradisi tersebut ditutup dengan acara makan bersama yang dilakukan dan dilanjutkan saling bermaafan.

Tradisi Mbed-mbedan memiliki tujuan dalam menjalin persatuan dan silaturahmi yang berlangsung diantara masyarakat di Desa Adat Semate.

Tradisi Mbed-mbedan sendiri sudah berlangsung sejak Saka 1396 dan sempat berhenti penyelenggaraannya selama bertahun-tahun.

Sementara pada 2011, tetua dan masyarakat desa adat memutuskan kembali untuk menyelenggarakan Tradisi Mbed-mbedan ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *