Oktober 16, 2026
30

Ilustrasi prosesi upacara Melasti (Instagram @tandjungsari).

Balidalamberita.com, DENPASAR – Prosesi upacara Melasti yang merupakan rangkaian Hari Suci Nyepi pada Buda Paing Wariga, Rabu, 26 Maret 2025 siang kemarin ternyata turut dihadiri 2.000 lebih krama Desa Adat Ungasan dan krama dari 15 banjar se-Desa Adat Ungasan.

Pusat upacara sakral berlangsung hikmat di Pantai Melasti, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali.

Pada prosesi melasti tersebut dilakukan prosesi jalan kaki hingga sejauh 5,6 kilometer yang dimulai start dari Pura Desa Adat Ungasan hingga finish di Pantai Melasti bolak-balik.

Menurut Bendesa Adat Ungasan, I Wayan Disel Astawa mengungkapkan jika jumlah peserta yang mengikuti upacara pada tahun 2025 ini, jumlahnya mencapai 2.000-an orang, walaupun keseluruhan Desa Adat Ungasan mempunyai 6.000-an krama.

“Jadi ini sudah 5 tahun tidak kita laksanakan nyejer tersebut, karena sebelumnya ada pandemi Covid-19 jadi saat ini karena sudah pulih kami lakukan kembali dan supaya lintasan margi yang kita punya secara niskala dari atas itu supaya dapat berfungsi,” ucap Disel.

Selanjutnya, Disel Astawa menjelaskan tentang arti pentingnya melestarikan budaya untuk berjalan kaki selama prosesi Melasti yang sudah dijalankan secara turun-temurun oleh para leluhur desa.

Pada acara tersebut, akan melewati jalur melasti yang kabarnya berada di ketinggian 100 meter, kemudian harus turun hingga 800 anak tangga ke lokasi upacara.

“Itu margi Ida Bhatara sejak turun temurun kita terima, sebagai leluhur jadi harus kita lintasi sehingga ke depan jika ada pembangunan tersebut dapat tetap digunakan,” terang Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali tersebut.

Ia mengungkapkan upacara Melasti adalah bagian dari tradisi ritual bagi umat Hindu yang diadakan setiap satu tahun sekali dalam rangka menyambut perayaan Hari Raya Nyepi.

Tradisi tersebut, menurut Disel Astawa, mempunyai hubungan dengan asal-usul dari nama Pantai Melasti yang sudah lama dijadikan lokasi sakral dalam ritual tersebut.

Setelah berlangsungnya upacara Melasti, maka selanjutnya dengan nyejer yang diadakan di Bale Agung sekitar dua malam.

Hal tersebut dimaksudkan supaya penduduk setempat yang bekerja tetap bisa mengikuti rangkaian dari upacara tersebut.

Ketika berlangsungnya pangrupukan nanti maka akan berlangsung parade ogoh-ogoh yang menjadi simbol pengusiran butha kala.

Parade tersebut diselenggarakan di lapangan utama, selanjutnya melintasi Marga Tiga hingga kembali di masing-masing banjar dan secara mandiri melakukan prosesi Pangrupukan.

Selain itu, pada perayaan yang berlangsung di tahun ini, juga diselenggarakan lomba ogoh-ogoh yang sudah mendapatkan penilaian sebelumnya.

Disel yang juga menjadi politisi Gerindra tersebut turut mengimbau seluruh penduduk agar kembali ke rumahnya masing-masing usai Pangrupukan sehingga dapat mempersiapkan diri dalam menyambut Catur Brata Penyepian.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *