
Balidalamberita.com, DENPASAR – Bali mempunyai upacara adat yang unik, salah satunya adalah Ruwatan Wayang Sapuh Leger.
Seperti halnya upacara adat lainnya, Ruwatan Wayang Sapuh Leger juga mempunyai makna dan tujuan.
Upacara ini diselenggarakan kepada orang yang dilahirkan dalam wuku Wayang.
Masyarakat Bali memiliki keyakinan bagi seseorang yang lahir dalam wuku Wayang maka perlu menjalankan Ruwatan Sapuh Leger.
Proses Upacara Ruwatan Sapuh Leger
Proses upacara Ruwatan Sapuh Leger memerlukan suatu persiapan sarana pelengkap, meliputi canang, banten, dan wadah tirta.
Prosesi Upacara Ruwatan Sapuh Leger membutuhkan beragam jenis tirta, adalah campuhan, jagat nata, melanting, merajan, padma sari, pancuran, penglukatan wayang, segara, setra, tirta kelebutan, dan tirta sulinggih.
Seseorang yang terlahir ketika di wuku wayang yang akan disucikan (lukat) dengan menggunakan sarana banten upakara yang sudah dipersiapkan dan air suci tirta panglukatan.
Serta terlebih dahulu melakukan mementaskan wayang kulit yang berasal dari cerita wayang dengan lakon Dewa Kala.
Seorang Dalang Brahmana menjadi dalang yang pemimpin upacara atau seorang pandita yang juga disebut dengan Ida Mpu Leger.
Seorang Mpu Leger telah mampu, memahami dan menguasai Katatwaning/Dharma Pewayangan.
Sementara itu, Mpu Leger juga memiliki penguasaan terhadap mantra pengelukatan.
Makna dan Tujuan
Upacara Ruwatan Sapuh Leger ini termasuk dalam manusa yadnya, yaitu diperuntukkan manusia itu sendiri.
Arti dari kata “sapuh” merupakan bersih, sementara “leger” berasal dari bahasa Jawa yang memiliki sinonim dengan “leget” yang artinya kotor.
Upacara Ruwatan atau Pebayuhan Sapuh Leger merupakan ritual membersihkan diri dari energi buruk ataupun aura negatif yang dijalankan oleh warga Bali. Sapuh
Leger diyakini dalam menyucikan seseorang yang dilahirkan dalam wuku Wayang menggunakan pertunjukan wayang.
Upacara tersebut termasuk pada pertunjukan wayang yang bersifat sakral.
Pementasan wayang Sapuh Leger bukan hanya menjadi tontonan semata, namun juga merupakan tuntunan dalam upacara pembersihan diri untuk orang-orang yang dilahirkan dalam wuku Wayang, pemeliharaan hidup dan kesejahteraan manusia.
Salah satu lontar mengungkapkan jika Bhatara Siwa mengizinkan Bhatara Kala dalam memakan manusia yang lahir pada wuku Wayang, suku ke-27 menurut penanggalan Bali.
Selanjutnya, dijelaskan juga pada buku Kala Purana, orang-orang yang lahir dalam Tumpek Wayang merupakan orang yang istimewa atau spesial.
Oleh sebab itu, Bhatara Kala harus mengejarnya supaya dapat memakannya, artinya seseorang tersebut akan diikuti oleh energi buruk.
Umat Hindu meyakini jika untuk keselamatan bayi yang dilahirkan saat hari tersebut, maka mereka menyelenggarakan upacara Wayang Sapuh Leger.
