Pura Dalem Dukun Sakti (sumber foto: balitoursclub.net)
Balidalamberita.com, BADUNG – Bali tidak hanya terkenal karena keindahan pura dan keagungan tradisi Hindu-nya, tetapi juga karena nilai-nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakatnya. Salah satu contoh nyata toleransi dan akulturasi budaya dapat ditemui di Pura Dalem Dukun Sakti, yang terletak di Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Pura ini bukan hanya menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, namun juga terbuka bagi umat Islam yang ingin melakukan doa atau ritual sembahyang di Pelinggih Tuan Aji Madura. Pengelola pura menyarankan umat non-Hindu untuk meminta izin kepada pemangku sebelum sembahyang, agar dapat memahami tata tertib serta rangkaian prosesi yang berlaku, dan membawa sesaji sesuai keyakinan masing-masing.
Pelinggih Tuan Aji Madura: Perpaduan Arsitektur Bali dan Islam
Keunikan utama dari Pura Dalem Dukun Sakti terletak pada Pelinggih Tuan Aji Madura, sebuah bangunan suci yang memiliki atap berbentuk kubah masjid. Meskipun strukturnya tetap menggunakan arsitektur khas Bali, bentuk atapnya menunjukkan pengaruh Islam, karena diyakini dibangun atas pawisik (petunjuk gaib) dari Tuan Aji Madura kepada Jro Mangku agar dibuatkan tempat suci dengan atap menyerupai masjid.
Setiap perayaan Hari Raya Idul Fitri, umat Islam yang datang ke Pura ini dapat bersembahyang di pelinggih tersebut. Pemangku pura biasanya menyiapkan sesajen berupa nasi tumpeng, buah-buahan, bunga, dan minuman, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kepercayaan yang ada.
Pelinggih Suci dan Sejarah Pembangunan
Pura Dalem Dukun Sakti dibangun secara bertahap, dimulai dari utara lalu berlanjut ke selatan. Pura ini memiliki sejumlah pelinggih, seperti:
- Pelinggih Ida Bhatara Puncak Mahameru
- Gedong Ratu Gede Dalem Ped
- Pelinggih Pramanca Mahajenarantaka (Padmacapah)
- Pelinggih Dalem Blambangan (Padma Kembar)
- Pelinggih Jero Gede (Tugu Capah)
- Gedong Dalem Majapahit
- Tajuk Pengaruman
- Pelinggih Perahu
Semua pelinggih dibangun menggunakan pasir malela, dan dipercaya memiliki kekuatan spiritual untuk nunas tamba (memohon kesembuhan) dan kelancaran dalam kesenian agar lebih bertaksu (berkarisma).
Asal Usul Nama Pura Dalem Dukun Sakti
Nama “Dalem” berasal dari gelar yang digunakan oleh sebagian besar Ida Bhatara yang berstana di pura ini. Sementara kata “Dukun” merujuk pada banyaknya orang yang merasakan kesembuhan setelah melakukan ritual di pura ini.
Pujawali atau hari suci di Pura Dalem Dukun Sakti jatuh pada Purnama Sasih Katiga, dan menjadi salah satu momen penting bagi para pemedek yang ingin memohon berkah kesehatan dan spiritual.
Pura Dalem Dukun Sakti tidak hanya menjadi tempat pemujaan umat Hindu, tetapi juga menjadi simbol akulturasi budaya dan toleransi beragama di Bali. Dengan keunikan pelinggih Tuan Aji Madura dan keterbukaan untuk semua pemeluk agama, pura ini menjadi warisan spiritual dan budaya yang patut dilestarikan oleh generasi mendatang.
