Oktober 15, 2026
Kendang Mebarung (Sumber foto: Istimewa)

Balidalamberita.com, JEMBRANA – Di antara hiruk-pikuk perkembangan zaman yang kian modern, masih terdengar dentuman kendang yang menggetarkan hati di Jembrana, Bali.

Itulah kendang mebarung, sebuah kesenian tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan budaya masyarakat setempat.

Kesenian ini lahir dan tumbuh di tanah Jembrana, menjadi saksi bisu perubahan generasi demi generasi. Pada era 1970-an, kendang mebarung pernah mencapai masa keemasan.

Saat itu, tercatat ada sebelas sekaa atau kelompok yang aktif memainkan kesenian ini. Salah satunya berasal dari Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, yang hingga kini masih berusaha menjaga denyut tradisi tersebut.

Namun, menjaga warisan budaya bukanlah hal mudah. Seiring berjalannya waktu, tantangan mulai datang, mulai dari minat generasi muda yang menurun, hingga kesulitan memperoleh bahan dan merawat alat musik.

Untuk membuat satu kendang mebarung saja, diperlukan kulit dari lima ekor sapi jantan berkualitas tinggi, menunjukkan betapa berharganya alat musik ini, baik secara materi maupun budaya.

Dulu, kendang mebarung sering menjadi hiburan utama dalam berbagai acara, seperti pesta keluarga atau upacara adat besar, termasuk ngaben.

Kini, perannya lebih sering dijumpai dalam upacara keagamaan, menjaga irama sakral di tengah suasana yang khusyuk.

Dalam setiap pertunjukan, setiap pemain memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni tabuhan kendang.

Namun, sebagian besar pemain kini telah berusia lanjut, sementara penerus yang mau belajar semakin sedikit. Kekhawatiran pun muncul: akankah dentuman kendang ini perlahan menghilang ditelan waktu?

Agar hal itu tak terjadi, dibutuhkan dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah. Pembinaan generasi muda, pelatihan, hingga perawatan alat musik tradisional harus menjadi perhatian bersama.

Lebih dari sekadar hiburan, kendang mebarung adalah identitas dan kebanggaan Jembrana. Ia menyimpan nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur.

Melestarikannya berarti menjaga denyut nadi kebudayaan Bali agar terus hidup, berirama, dan menggema hingga masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *