Oktober 15, 2026
Tirta Gangga di Desa Adat Ababi (Sumber foto: Tripadvisor)

Balidalamberita.com, KARANGASEM – Konon pada masa kerajaan Bali kuno, Raja Bali mengutus sekelompok peneliti yang dikenal sebagai pakiran-pakiran untuk menyelidiki laporan dari para Prajuru Desa Adat Ababi.

Penyelidikan tersebut dipimpin oleh Dang Acarya Kuturan Lembu Kara. Setelah meninjau langsung keadaan desa, mereka menyimpulkan bahwa masyarakat Ababi layak dibebaskan dari kewajiban membayar upeti kepada kerajaan.

Sebagai balasan, Raja Bali memberikan pesan kepada warga Ababi agar senantiasa berhati-hati dalam bertani serta rutin melakukan pemberantasan hama.

Hingga kini, amanat tersebut masih dijalankan lewat sebuah tradisi unik yang disebut upacara Palebon Jero Ketut, atau dikenal pula dengan sebutan ngaben tikus.

Dalam ritual ini, tikus-tikus yang dianggap merusak tanaman dibasmi dan kemudian dikremasi. Prosesi tersebut bukan sekadar simbol pembasmian hama, tetapi juga bentuk penghormatan pada alam, mengembalikan ruh hewan itu kepada habitatnya secara spiritual.

Air Suci dan Awal Kehidupan Desa Ababi

Sejak awal berdirinya, Desa Adat Ababi memiliki hubungan yang sangat erat dengan air suci. Masyarakat percaya bahwa air memiliki kekuatan spiritual yang mampu membersihkan jiwa dan raga manusia. Keyakinan inilah yang menjadi dasar kehidupan spiritual warga hingga kini.

Pada tahun 1946, Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, membangun sebuah istana air megah yang diberi nama Tirta Gangga. Keberadaan istana air ini semakin memperkuat makna penting air suci bagi masyarakat sekitar.

Makna di Balik Nama Tirta Gangga

Secara harfiah, kata Tirta dalam bahasa Bali berarti “air suci” atau “sumber kehidupan”. Sementara itu, Gangga merujuk pada Sungai Gangga di India, sungai suci yang sangat dihormati dalam ajaran Hindu.

Tirta Gangga dibangun bertingkat menjadi tiga bagian kolam yang sumber airnya berasal dari mata air alami di sekitarnya. Ketiga kolam tersebut melambangkan tiga tingkatan alam semesta dalam konsep Hindu, yaitu:

  1. Bhuana Agung – alam semesta yang luas,
  2. Bhuana Alit – alam semesta kecil atau dunia manusia,
  3. Swahasta – alam semesta dalam diri manusia.

Bangunan dan patung-patung yang menghiasi taman air ini juga sarat makna religius, menggambarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Misteri Air yang Tak Pernah Kering

Keistimewaan Tirta Gangga terletak pada sumber air sucinya yang tidak pernah berhenti mengalir, meski wilayah sekitarnya cenderung kering. Bagi masyarakat setempat, hal ini bukanlah hal biasa mereka meyakininya sebagai anugerah dari para dewa dan leluhur.

Pemandangan kolam yang dipenuhi ikan koi besar menambah nuansa magis. Beberapa wisatawan bahkan sering menyaksikan ikan-ikan tersebut berenang dalam formasi tertentu, seolah sedang menari dipercaya sebagai tanda kehadiran roh suci penjaga tempat ini.

Selain itu, di kawasan ini juga terdapat beberapa batu suci yang diyakini memiliki energi spiritual. Sebagian digunakan dalam upacara adat, sementara lainnya dianggap sebagai tempat bersemayam roh leluhur.

Tidak jarang, pengunjung mengaku merasakan kehadiran energi halus atau memperoleh ketenangan batin setelah berkunjung ke sana.

Tirta Gangga: Antara Spiritualitas dan Keindahan Alam

Kini, Tirta Gangga tidak hanya dikenal sebagai objek wisata yang menawan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan umat Hindu.

Setiap tahun, berbagai upacara dan festival sakral digelar di tempat ini, menarik perhatian umat maupun wisatawan yang ingin menyaksikan kekayaan budaya Bali secara langsung.

Desa Adat Ababi dan Tirta Gangga adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya mencerminkan perjalanan panjang sejarah dan spiritualitas masyarakat Bali.

Air suci Tirta Gangga menjadi simbol kehidupan dan keseimbangan, sementara tradisi dan upacara di Desa Ababi menjaga warisan leluhur tetap hidup.

Di sinilah, spiritualitas, keindahan alam, dan budaya Bali berpadu menjadi satu kesatuan yang menakjubkan menjadikan Tirta Gangga bukan sekadar tempat wisata, melainkan pusat energi suci yang abadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *