Tradisi Siat Pandan (sumber foto: pesonaindo.com)
Balidalamberita.com, KARANGASEM – Bali yang dikenal kaya akan keragaman dan kebudayaannya ini, seperti tarian-tariannya.
Ternyata dikenal juga kaya akan beragam tradisi kuno yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Salah satu tradisi kuno yang dikenal luas, yaitu: Tradisi Siat Pandan atau masyarakat menyebutnya sebagai Mekare-kare.
Tradisi ini berasal dari Desa Adat Tenganan, Karangasem.
Tradisi Siat Pandan merupakan salah satu bentuk tarian yang menjadi kearifan lokal Bali yang memiliki nilai-nilai spiritual tinggi, aspek sosial, ekonomi, dan lingkup pendidikan.
Tradisi tersebut dianggap unik karena peperangan yang dilakukan memakai daun pandan berduri yang dijadikan sebagai senjata.
Lantas bagaimana sejarah tradisi Siat Pandan dan apa sarana yang digunakan dalam pagelaran Siat Pandan? Simak penjelasan lengkapnya ada di bawah ini.
A. Sejarah Tradisi Siat Pandan
Tradisi Siat Pandan adalah suatu bentuk penghormatan yang diberikan terhadap Dewa Indra.
Menurut kepercayaan umat Hindu, Dewa Indra adalah Dewa Perang dan Kesuburan.
Meskipun tidak adanya sumber tertulis yang menjelaskan asal-usul dari tradisi ini, satu-satunya sumber tertulis yang menyebut tradisi ini diduga ada di kitab Usana Bali (yang diperbarui terakhir kali pada tahun 1842).
Pada kitab tersebut menjelaskan jika Siat Pandan merupakan tradisi perang dengan memakai daun pandan yang berduri untuk dijadikan senjata dan perisai tamyang dalam perlindungan diri.
B. Sarana dalam Pagelaran Siat Pandan
Beberapa sarana yang dibutuhkan dalam melangsungkan tradisi tersebut meliputi:
- Daun Pandan Berduri
Hanya daun pandan yang berasal dari Desa Adat Tenganan yang bisa dipakai dalam tradisi tersebut, karena duri pada daun pandan tersebut lebih mudah terlepas sehingga tidak menimbulkan luka yang lebih parah saat menggunakan daun pandan tersebut.
- Perisai ataupun Tamyang
Perisai yang dipakai dalam tradisi terbuat terbuat dari anyaman rotan yang memiliki bentuk lingkaran, kuat, serta ukurannya besar.
- Pakaian Adat
Para penari dalam tradisi ini menggunakan pakaian adat yang khas dari desa Tenganan, misalnya kamen geringsing serta kadutan (keris kecil) yang kemudian terselip pada belakang pinggang.
- Gamelan
Pertunjukan tersebut juga kerap mendapatkan iringan gamelan selonding, yang menjadi instrumen gamelan sakral dan dimainkan ketika waktu tertentu saja.
Itulah tadi penjelasan singkat mengenai sejarah tradisi Siat Pandan dan apa sarana yang digunakan dalam pagelaran Siat Pandan.(*)
