Oktober 15, 2026
Lulusan S2 ojek online

Ilustrasi S2 Kok Ojek Online

Balidalamberita.com, DENPASAR – Publik belakangan, sedang banyak membicarakan konten pada akun tiktok Syifa yang menceritakan tentang fenomana lulusan S2 yang bekerja sebagai ojek online. Dalam konten tersebut, Syifa yang mengaku sedang berkuliah di luar negeri menyampaikan bahwa fenomena S2 menjadi ojek online adalah salah satu bukti sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia. Syifa juga sempat menyenggol pemerintah, bahwa mestinya pemerintah ikut bertanggungjawab dengan fenomena tersebut.

Benarkah kondisi itu? Mari kita ulas dari beberapa sudut pandang.

Menurut data yang dirilis Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia, terus menunjukkan trend positif, meskipun sempat mengalami kontraksi parah sebesar 2,07% pada saat Pandemi COVID-19 di tahun 2022.
Hingga tahun 2024, ekonomi Indonesia terus menunjukkan trend pertumbuhan positif, meskipun pada semester awal 2025, perang tarif bea masuk barang impor antara USA dengan China dan beberapa negara lain, sempat sedikit berpengaruh terhadap neraca perdagangan ekspor komoditi dari Indonesia.

Bagaimana dengan data angka pengangguran?

Disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, sampai Februari 2025, angka penggangguran di Indonesia mencapai angka 7,28 juta orang atau sekitar 4,76%. Meskipun terjadi peningkatan dibandingkan Februari 2024, namun salah satu alasannya adalah adanya peningkatan jumlah angkatan kerja sebesar 3,67 Juta yang sebagian diantaranya belum terserap oleh pasar kerja.

Apakah ini berhubungan dengan fenomena lulusan S2 ngojek online yang sedang ramai diperbincangkan? Data yang menunjukkan korelasi secara langsung tidak bisa redaksi temukan.

Namun, menarik jika mengulik dari sisi sifat profesi ojek online yang sudah diklaim sebagai opsi pekerjaan sampingan. Hal ini karena konsep kemitraannya yang dibangun, membuat waktu kerja yang sangat fleksibel. Apakah ini yang menarik para lulusan S2 tadi untuk memanfaatkan waktu luang untuk menghasilkan sesuatu? Bisa jadi.

Konsep kemitraan yang fleksibel ini juga membuat profesi ojek online sangat diminati oleh mahasiswa. Penulis juga berkali-kali bertemu dengan ojek online yang sedang menempuh perkuliahan di Universitas Ternama di Denpasar. Bahkan ada juga yang sedang menempuh pendidikan S2. Alasan mereka, salah satunya adalah fleksibelitas, selain memang bertujuan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. “daripada gabut di kos pak, mending ngebid (mencari order atau konsumen) sambil cari tambahan”ujar mahasiswa tersebut.

Ada juga yang beralasan, dengan melakoni pekerjaan sebagai ojol, dapat menambah pengalaman berinteraksi sosial, berkomunikasi, bahkan melatih skill manajemen waktu. Kembali lagi, tentunya karena profesi ini sangat fleksibel, tidak mengikat dan mewajibkan mengikuti aturan jam kerja bagi orang yang melakoni.

Bagi masyarakat Bali terlebih Krama Desa Adat, melakoni profesi ojol akan memberikan lebih banyak waktu luang untuk tetap menjaga adat dan tradisi. Terlebih Krama Desa Adat memiliki kewajiban ngaturang ngayah di Pura, Banjar maupun Merajan. Bagi Krama Desa Adat yang memiliki usaha makanan dan minuman, keberadaan profesi ojol juga sangat membantu untuk memberikan ruang yang lebih luas dalam pengembangan usaha, meningkatkan dan memperluas area penjualan, tanpa meninggalkan akar adat dan tradisi.

Kembali lagi, tampaknya banyak alasan bagi fenomena Lulusan S2 yang memutuskan untuk mengambil profesi sebagai ojek online tersebut. Tidak bijak juga, jika fenomena itu langsung dikaitkan dengan kondisi perekonomian yang disebut sedang tidak baik-baik saja. Meskipun, angka penganggguran cukup tinggi dibandingkan dengan penggangguran di negara-negara ASEAN lainnya, tetapi data lain menunjukkan bahwa 61% penduduk Indonesia telah memiliki penghasilan tetap. Artinya bisa saja, Lulusan S2 yang berprofesi sebagai ojol sebenarnya adalah bagian dari 61% yang berpenghasilan tetap tersebut, tetapi sedang memanfaatkan fleksibelitas profesi ojol untuk mendapatkan uang tambahan.

Bisa saja, mereka adalah kelompok yang memanfaatkan waktu luang untuk sekedar bisa berinteraksi sosial dan memanfaatkan hobby berkendara motor misalnya. Penulis pernah punya pengalaman ketika memesan ojol, kemudian didatangi oleh ojol yang menggunakan kendaraan merek Vespa termahal dengan penampilan ojol yang tampak klimis. Setelah berbincang, ternyata dia mengaku anak dari pemilik usaha bakso ternama di Jalan By Pass Sanur yang kebetulan sering menjadi langganan penulis.”Gabut Om, tadi bantu bapak jualan, terus bosan jadinya ngojek sambil cari angin”ujarnya sambil mengaku sedang kuliah di Fakultas Ekonomi di kampus negeri terbesar di Bali.

Saya hanya tersenyum simpul. “Pantesan gak asing dengan wajahnya”gumam saya dalam hati. Di sisi lain, fenomena ini membuat penulis cukup senang. Bagus juga kalau anak – anak muda yang gabut mencari pelarian dengan ngebid. Hobby nge-ride jalan, skill komunikasi dan interaksi terasah, uang tambahan juga dapat. Ini jauh lebih baik dari kebut-kebutan di jalanan, atau minum minuman keras yang jelas sangat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *