Monumen Selamat Datang yang berdiri di Desa Bengkala (Sumber foto: budayabali.com)
Balidalamberita.com, BULELENG – Terletak di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Desa Bengkala menjadi salah satu desa paling unik di Bali. Jarak tempuh menuju desa ini sekitar 15,6 kilometer dari Kota Singaraja dan kurang lebih 100 kilometer dari Kota Denpasar.
Warga lokal sering menyebutnya sebagai “desa bisu dan tuli” karena banyak penduduknya menggunakan bahasa isyarat khas yang disebut Kolok. Bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya desa yang inklusif.
Bahasa Isyarat Kolok yang Inklusif
Warga Desa Bengkala membangun budaya komunikasi yang inklusif dan penuh empati. Mereka tidak hanya terbiasa dengan bahasa isyarat, tetapi juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Kolok tidak hanya digunakan oleh warga tunarungu. Masyarakat yang memiliki kemampuan pendengaran normal pun ikut belajar dan menggunakan Kolok untuk menjalin komunikasi yang efektif dan tanpa diskriminasi.
Di sekolah-sekolah, para guru mengajar menggunakan kombinasi bahasa lisan, tulisan, dan isyarat. Hal ini membuat hampir seluruh penduduk desa mampu berinteraksi lancar dengan komunitas tunarungu.
Komunitas tunarungu di desa ini telah eksis selama tujuh generasi. Mereka aktif mempelajari kesenian dan budaya tradisional Bali, termasuk mementaskan Janger Kolok—seni tari yang unik dan sarat ekspresi visual.
Legenda Asal Usul Desa Bengkala
Legenda setempat menceritakan asal mula keberadaan komunitas tunarungu di Bengkala sebagai akibat kutukan. Dahulu, dua kelompok masyarakat berselisih mengenai penyembahan Dewa. Salah satu kelompok memilih keluar desa dengan membawa emas. Saat dipanggil dan tak menoleh, mereka pun diyakini terkena kutukan untuk kehilangan kemampuan berbicara dan mendengar. Kelompok inilah yang kemudian menetap di Bengkala.
Daya Tarik Wisata Desa Bengkala
Selain keunikan budayanya, Desa Bengkala juga menawarkan pesona alam yang menawan. Hamparan sawah hijau dan perbukitan mengelilingi desa ini. Wisatawan yang menyukai aktivitas luar ruang bisa mencoba tracking atau mengunjungi Air Terjun Gitgit yang berjarak sekitar 30 menit dari desa.
Desa Bengkala juga dikenal dengan kerajinan tangan seperti anyaman bambu dan tenun ikat tradisional, yang dibuat oleh para perempuan desa dengan ketrampilan turun-temurun.
Bukti Sejarah Sejak Abad ke-12
Catatan sejarah menunjukkan bahwa keberadaan Desa Bengkala sudah sangat lama. Berdasarkan prasasti lempengan tembaga dari masa pemerintahan Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus Arkaja China (1133–1173 M), diketahui bahwa desa ini telah ada setidaknya sejak tahun Saka 1103 atau 22 Juli 1181 Masehi. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1971 dan memperkuat status Desa Bengkala sebagai bagian penting dari sejarah Bali Kuno.
