Oktober 15, 2026
Bulan Bung Karno 2025

Gubernur Bali Wayan Koster saat menutup Bulan Bung Karno VII Tahun 2025 di ISI Bali, Minggu (29/6), dengan menggaungkan semangat JAS MERAH dan Trisakti sebagai warisan perjuangan Bung Karno (Istimewa).

Balidalamberita.com, DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, secara resmi menutup Bulan Bung Karno VII Tahun 2025 di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali pada Minggu (29/6). Dalam sambutannya, Gubernur Koster menegaskan pentingnya mengingat prinsip dan gagasan Bung Karno sebagai fondasi kebangsaan.

“Bung Karno bukan milik PDI Perjuangan, melainkan milik seluruh Bangsa Indonesia,” tegas Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini.

Ia menekankan bahwa Bung Karno telah mengajarkan pentingnya pengetahuan, pendidikan, dan ideologi kebangsaan. Salah satunya melalui prinsip Trisakti: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ketiga prinsip ini, menurut Koster, harus terus dipegang teguh oleh generasi muda dalam membangun masa depan Indonesia.

“JAS MERAH – Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Kita bisa menikmati pembangunan hari ini karena perjuangan para pahlawan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Apresiasi dan Harapan untuk Bulan Bung Karno

Koster juga mengapresiasi pelaksanaan Bulan Bung Karno yang rutin digelar oleh Pemerintah Provinsi Bali sesuai dengan Pergub Bali Nomor 19 Tahun 2019. Namun ia menyarankan agar ke depannya perlombaan yang diselenggarakan bisa lebih variatif, luas, dan meriah, sehingga dapat menggugah semangat kebangsaan seluruh lapisan masyarakat.

Tahun ini, rangkaian lomba yang memeriahkan Bulan Bung Karno VII antara lain:

  • Lomba Musikalisasi Puisi Bung Karno bertema “Sudah Ber-Ibu Kembali”
  • Lomba Film Pendek bertema “Berdikari Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal Bali”
  • Lomba Film Dokumenter bertema “Ketahanan Budaya Bali di Tengah Globalisasi”

Klarifikasi Soal PHK dan Over Tourism

Dalam kesempatan tersebut, Koster juga memberikan klarifikasi terkait isu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan over tourism di Bali.

“PHK memang ada, tapi tidak berkaitan dengan turunnya jumlah wisatawan. Misalnya, PHK di perusahaan Coca-Cola di Mengwi karena lini usaha mereka sudah tidak diperlukan,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa jumlah wisatawan mancanegara dan domestik di Bali justru mengalami peningkatan. Kendati ada penurunan wisatawan domestik di awal 2025, namun pada Juni 2025 angka kunjungan meningkat tajam, bahkan wisatawan mancanegara tumbuh 10–12 persen per hari dibanding tahun lalu.

Terkait over tourism, Koster menilai Bali belum bisa disebut mengalami kelebihan wisatawan, melainkan menghadapi masalah wisatawan nakal.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Kapolda dan Imigrasi. Kalau ada wisatawan nakal, langsung dideportasi. Kalau melanggar hukum, ya diproses hukum,” tegasnya. Hal ini menurutnya demi menjaga ketertiban dan reputasi Bali sebagai destinasi yang tertib dan berbudaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *