Oktober 15, 2026
Kepala BMKG temui gubernur Bali membahas cuaca (Foto: bmkg.go.id)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof. Dwikorita Karnawati, baru-baru ini melakukan audiensi dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster, untuk menyampaikan peringatan dini serius terkait potensi cuaca ekstrem menjelang dan selama musim hujan di Pulau Dewata.

BMKG memprediksi musim hujan kali ini di beberapa wilayah Bali akan memiliki sifat lebih basah (di atas normal), yang meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Pertemuan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah guna mengantisipasi dampak perubahan iklim dan mewujudkan visi “Selamatkan Rakyat Menuju Nol Korban Bencana.”

Dalam audiensi tersebut, Kepala BMKG menekankan bahwa beberapa Zona Musim (ZOM) di Bali diprediksi akan mengalami curah hujan di atas normal (lebih basah).

Meskipun awal musim hujan di Bali umumnya berkisar antara Oktober hingga Desember 2025, peningkatan intensitas curah hujan dipengaruhi oleh anomali iklim global.

Prediksi ini perlu diwaspadai karena meningkatkan potensi terjadinya fenomena ekstrim seperti:

Banjir dan Banjir Bandang

Curah hujan yang tinggi dan turun dalam waktu singkat berpotensi menyebabkan debit air sungai meningkat drastis, memicu banjir, terutama di kawasan yang padat penduduk atau daerah dataran rendah.

Tanah Longsor

Wilayah Bali yang memiliki kontur perbukitan, seperti di Tabanan, Karangasem, dan Buleleng, rentan mengalami tanah longsor akibat kejenuhan air tanah.

Angin Kencang dan Pohon Tumbang

Cuaca ekstrem sering disertai angin kencang yang dapat menumbangkan pohon dan merusak infrastruktur.

Kepala BMKG bahkan sempat mencontohkan fenomena “Hujan Sebulan Turun dalam Sehari” yang makin sering terjadi di Bali, di mana curah hujan yang seharusnya terakumulasi selama satu bulan bisa turun hanya dalam waktu 24 jam.

Untuk menghadapi ancaman ini, BMKG meminta Pemerintah Provinsi Bali dan seluruh jajaran terkait untuk mengambil langkah-langkah mitigasi konkret:

Pemetaan dan Penertiban Kawasan Rawan

Melakukan pemetaan ulang wilayah rawan banjir bandang dan longsor, serta meninjau aktivitas penggalian di lereng perbukitan.

Normalisasi Sungai

Melakukan pemeriksaan dini dan penataan kembali badan sungai yang mengalami pendangkalan atau penyempitan untuk melancarkan aliran air.

Sosialisasi dan Kewaspadaan Masyarakat

Memperkuat penyampaian informasi peringatan dini cuaca kepada masyarakat, termasuk wisatawan, agar mereka lebih waspada dan proaktif dalam upaya pencegahan.

Optimalisasi Aplikasi Digital

Memanfaatkan aplikasi resmi BMKG, seperti Info BMKG, yang menyajikan data cuaca, iklim, dan peringatan dini yang diperbarui secara berkala, sebagai rujukan utama.

Menanggapi peringatan ini, Gubernur I Wayan Koster menegaskan komitmen Pemprov Bali untuk terus memperkuat langkah mitigasi dan koordinasi.

I Wayan Koster menekankan bahwa keselamatan masyarakat dan harmoni antara manusia dan alam adalah prioritas utama. Dengan kesiapsiagaan yang baik, diharapkan risiko bencana dapat diminimalisir di tengah tantangan perubahan pola cuaca ekstrem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *