
Balidalamberita.com, DENPASAR – BMKG mencatat jika hujan di Bali mulai turun sejak Selasa pagi, 9 September 2025, pukul 02.15 WITA, dan hingga Rabu, 10 September 2025.
Menurut keterangan dari Kepolisian Daerah Bali, sedikitnya ada 5 orang meninggal dunia karena banjir yang terjadi selama 2 hari sejak Selasa malam sampai Rabu pagi.
Tim SAR gabungan sampai hari Rabu petang masih melakukan pencarian 6 orang lainnya yang dinyatakan masih hilang.
Curah Hujan yang Tinggi
Menurut data BMKG, curah hujan selama Selasa pagi hingga Rabu pagi sekitar 385,5 mm atau lebih dari 2 kali lipat dari ambang bawah pada kejadian hujan ekstrem (150 mm per hari).
Curah hujan di Bali yang sangat ekstrem tersebut dilaporkan oleh Stasiun Klimatologi Bali yang berada di Jembrana.
Sementara Erma Yulihastin selaku peneliti yang ada di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN menjelaskan data hujan 216 mm sepanjang Selasa dan lebih dari 150 mm pada Rabu.
Erma merujuk terhadap data yang didapatkan berdasarkan alat ukur yang ada di wilayah Sanur, Denpasar.
Prakirawan cuaca di Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Bali, Putu Agus Dedy Permana, menjelaskan hujan di Bali merata dengan baik yang berada di dataran tinggi Bali dan di kawasan selatan yang berada di area rendah. Intensitasnya beranekaragam di berbagai daerah, baik ringan sampai lebat.
“Kemungkinan hujan masih terus akan terjadi seminggu kedepan,” ucapnya ketika dihubungi pada Rabu malam.
“Hari ini hujan intensitas sedang. Besok hingga seminggu kedepannya, potensinya hujan ringan,” terangnya.
Putu juga mengungkapkan, citra radar cuaca BMKG, penyebab hujan ekstrem di Bali karena adanya aktivitas gelombang equatorial Rossby yang memiliki dampak pertumbuhan awan-awan yang konvektif.
Faktor tersebut ditambah kondisi kelembapan yang ada di Bali dengan kisaran 80-100 persen memiliki rentang tinggi pada lapisan bawah sampai lapisan 200 mb atau memiliki ketinggian 12 kilometer.
“Kondisi tersebut mendukung pembentukan awan konvektif dengan puncak awan yang tinggi sehingga menciptakan hujan lebat disertai petir,” ucapnya.
“Jadi Bali dikepung dari dua sumber (awan konvektif),” imbuhnya melalui akun media sosialnya, Rabu sore.
Menurutnya, awan-awan konvektif tersebut terbentuk yang ada di Selat Bali serta di perairan selatan Bali. Mereka masuk menuju Bali secara masif karena adanya angin timuran ataupun Monsun Australia.
