Oktober 15, 2026
Ilustrasi Dewi Saraswati (dok. Istimewa)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Hari Raya Saraswati adalah salah satu hari besar keagamaan yang sangat penting bagi umat Hindu, khususnya di Bali dan Nusantara.

Hari raya ini didedikasikan untuk memuja Dewi Saraswati, manifestasi Tuhan dalam wujud Dewi Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Kebijaksanaan.

Berbeda dengan hari raya besar lainnya, Saraswati memiliki fokus yang unik, yaitu pada pentingnya pendidikan, pembelajaran, dan penghormatan terhadap sumber ilmu.

Perayaan Saraswati dilaksanakan setiap 210 hari sekali (sesuai perhitungan kalender Bali Pawukon), tepatnya jatuh pada hari Saniscara Umanis Wuku Watugunung (Sabtu Umanis wuku terakhir).

Hari ini diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan ke dunia, yang memberikan penerangan bagi umat manusia untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Dewi Saraswati digambarkan dengan simbolisme yang penuh makna, mencerminkan aspek-aspek penting dalam mencari dan menggunakan ilmu pengetahuan:

  • Duduk di atas Teratai Putih: Melambangkan kesucian dan kebersihan, menandakan bahwa ilmu pengetahuan harus dicari dan digunakan dengan hati yang suci.
  • Wahananya (Kendaraan): Angsa Putih (Hamsa): Melambangkan kemampuan memilah antara yang baik dan buruk (Viveka). Angsa konon mampu memisahkan antara air dan susu; demikian pula ilmu harus dapat memisahkan kebenaran dan kepalsuan.
  • Memainkan Alat Musik Vina: Melambangkan keindahan seni dan harmoni. Ilmu pengetahuan harus diiringi dengan kelembutan, tidak menimbulkan kekerasan.
  • Memegang Aksamala (Tasbih/Rosario): Melambangkan ilmu yang tidak ada batasnya dan harus dipelajari secara terus-menerus dan tanpa henti.
  • Memegang Kitab Suci (Pustaka): Melambangkan sumber ilmu pengetahuan, yang wajib dipelajari dan dihormati. Kitab suci adalah simbol kebijaksanaan dan kebenaran abadi.

Pelaksanaan Hari Raya Saraswati sangat khas, ditandai dengan rangkaian upacara yang berpusat pada pemujaan buku dan sumber-sumber ilmu:

  • Pemujaan Pustaka: Pada hari Saraswati, umat Hindu melakukan pemujaan terhadap semua jenis buku, kitab suci, dan alat-alat tulis (seperti pensil, komputer, atau alat musik) yang menjadi sarana belajar dan berkarya. Buku-buku tersebut disucikan (diberi sesajen) dan diletakkan di tempat pemujaan.
  • Pelarangan Belajar: Ada tradisi yang melarang umat untuk membaca atau menulis pada hari Saraswati. Larangan ini bertujuan agar umat fokus bersembahyang dan merenung, menghormati ilmu yang telah didapatkan, bukan sekadar mencari ilmu baru.
  • Sembahyang di Sekolah dan Kampus: Sekolah-sekolah dan kampus-kampus Hindu (maupun sekolah umum) biasanya mengadakan upacara besar di pagi hari, mengundang para siswa, guru, dan dosen untuk bersembahyang bersama memohon berkah agar ilmu yang didapatkan bermanfaat.
  • Hari Banyupinaruh: Sehari setelah Saraswati disebut Banyupinaruh. Pada hari ini, umat melakukan penyucian diri (melukat) dengan mandi di sumber air suci, pantai, atau sungai.

Ritual ini melambangkan pembersihan diri setelah menerima ilmu, agar ilmu tersebut dapat digunakan dengan suci dan benar.

Hari Raya Saraswati adalah pengingat spiritual bagi seluruh umat Hindu akan pentingnya kecerdasan, etika, dan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan adalah anugerah ilahi yang harus disyukuri dan digunakan untuk kemajuan hidup bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *