Oktober 15, 2026
Ilustrasi Hari Raya Galungan. Foto: pexels/Dmitry Voronov

Balidalamberita.com, DENPASAR – Hari Raya Galungan merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Hindu di Bali. Upacara ini berlangsung setiap 210 hari, mengikuti siklus kalender Bali, tepatnya pada Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan).

Bagi masyarakat Hindu, Galungan menjadi simbol kemenangan Dharma kebenaran dan kebajikan atas Adharma atau kejahatan. Menariknya, perayaan Galungan tidak hanya dijalankan oleh masyarakat Bali.

Komunitas Tengger di Jawa Timur juga mengenal hari suci ini, meski dengan tradisi dan pemaknaan yang berbeda, terutama sebelum ajaran Hindu Dharma mulai diperkenalkan di wilayah tersebut pada tahun 1980-an.

Di Tengger, Galungan diperingati setiap 210 hari pada wuku Galungan sebagai momen untuk memohon berkah bagi desa, sumber air, dan seluruh warga.

Prosesi upacaranya mirip dengan barikan, sebuah ritual yang umumnya dilakukan setiap 35 hari atau setelah terjadinya bencana seperti letusan gunung berapi, gempa, ataupun gerhana.

Namun, berbeda dengan barikan tradisional, perayaan Galungan di Tengger kini tidak lagi dilaksanakan sesuai cara-cara lama masyarakat setempat.

Upacara Galungan telah diselaraskan dengan tata upacara Hindu Bali, sehingga praktiknya menjadi lebih seragam.

Sejarah Singkat Galungan

Galungan pertama kali tercatat diperingati pada malam purnama tanggal 15, tahun Saka 804 atau 882 Masehi. Tradisi ini sempat mengalami masa jeda sebelum dihidupkan kembali oleh Raja Sri Jayakasunu.

Makna Galungan berakar pada kisah kemenangan Dewa Indra atas Mayadenawa, yang menggambarkan pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan.

Dalam kepercayaan masyarakat Bali, pada hari Galungan roh leluhur akan kembali ke rumah, sehingga keluarga wajib menyambut kedatangan mereka dengan doa serta berbagai persembahan.

Pada intinya, Galungan menjadi pengingat bagi manusia untuk mampu menundukkan hawa nafsu yang dapat merusak ketenangan jiwa dan kehidupan.

Perayaan Galungan ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga momentum spiritual untuk memperkuat kesadaran akan nilai-nilai kebajikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *