Oktober 15, 2026
Gubernur Koster larangan AMDK plastik

Gubernur Wayan Koster berfoto bersama pengurus BEM Undiknas usai berdiskusi soal Gerakan Bali Bersih dan larangan AMDK plastik kecil, Kamis (17/4)

Balidalamberita.com, DENPASAR – Generasi muda Bali terus bergerak mendukung kebijakan visioner Gubernur Wayan Koster. Terbaru, BEM Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) menyuarakan dukungan penuh terhadap larangan penjualan air minum dalam kemasan (AMDK) plastik di bawah satu liter.

Dukungan itu disampaikan langsung oleh Ketua BEM Undiknas, IB Bujangga Pidada, saat audiensi bersama Gubernur Koster di Jayasabha, Kamis (17/4/2025) pagi.

“Kami mengapresiasi kebijakan ini sebagai langkah nyata untuk menekan jumlah sampah plastik sekali pakai di Bali,” tegas Bujangga.

Antara Dukungan dan Tantangan

Dalam kajiannya, BEM Undiknas menemukan bahwa masyarakat Bali masih terbagi dua pandangan soal kebijakan ini. Namun, dukungan dari luar Bali hingga pemerintah pusat justru semakin kuat terhadap langkah progresif Gubernur Koster.

Bujangga menambahkan, pemerintah juga diharapkan menyentuh masalah sampah rumah tangga, serta memaksimalkan peran TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle).

Koster: Ini Momentum Perubahan Gaya Hidup

Gubernur Wayan Koster menyambut baik semangat generasi muda dan menegaskan bahwa larangan AMDK plastik kecil adalah momentum besar untuk penanganan sampah yang lebih terstruktur dan menyeluruh.

“Di desa-desa, kita akan masifkan penanganan berbasis sumber. Sudah ada desa yang berhasil, tinggal kita replikasi ke yang lain,” ujar Gubernur Koster.

Ia juga menanggapi pro-kontra kebijakan ini dengan santai. Menurutnya, setiap perubahan memang butuh waktu. Namun bila tidak dilakukan, ekosistem Bali terancam rusak, begitu juga citra dan daya saing pariwisata Bali.

“Kalau kita diam saja, Bali bisa jadi target kampanye negatif oleh negara pesaing di sektor pariwisata,” ujarnya.

Produsen Diajak Inovasi

Tak berhenti sampai di situ, Gubernur juga berencana mengundang para pelaku usaha dan produsen air minum untuk berdialog secara langsung.

“Kita dorong mereka berinovasi dalam pengemasan. Misalnya menggunakan botol kaca seperti yang sudah diterapkan produsen lokal,” pungkasnya.

Kebijakan ini, meski menantang, telah membuka mata generasi muda akan pentingnya menjaga Bali dari krisis sampah plastik. Generasi muda tak hanya menjadi pengamat, tapi kini jadi penggerak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *