Oktober 15, 2026
Peresmian Teba Modern di Banjar Keliki Kawan, Desa Kelusa, Payangan

Peresmian Teba Modern di Banjar Keliki Kawan, Desa Kelusa, Payangan

GIANYAR – Program kerja Kuliah Aplikatif Terpadu (KAT) Kelompok 16 Universitas Ngurah Rai (UNR) memperkenalkan konsep “Teba Modern, untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah organik di Banjar Keliki Kawan, Desa Kelusa, Payangan.

Implementasi program ini meliputi sosialisasi dan pembuatan fasilitas Teba Modern, yang berfungsi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Selain itu kelompok 16 juga membuat secara nyata fisik dari teba modern itu sendiri.

Ketua kelompok KAT (Kuliah Aplikatif Terpadu) UNR Kelusa 4, I Komang Jenna Aditya Pratama, mengatakan, kegiatan ini melibatkan mahasiswa KAT kelompok 16 Universitas Ngurah Rai, masyarakat Banjar Keliki Kawan, perangkat desa, ibu-ibu PKK, dan STT (Sekaa Teruna Teruni).

“Kita juga menghadirkan Narasumber dari Forum Penggiat Lingkungan Bali, yang juga turut memberikan materi edukasi,” jelasnya. Dipaparkannya, kegiatan diawali dengan sosialisasi pada 2 November 2024. Selanjutnya Pembuatan Teba Modern yang dimulai pada 16 November hingga peresmian pada 2 Desember 2024 Dukatakan, Banjar Keliki Kawan menghadapi permasalahan pengelolaan sampah organik, akibat kurangnya kesadaran masyarakat dan fasilitas yang memadai.

“Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca seperti metana,” ujarnya. Teba Modern diharapkan menjadi solusi yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak negatif tersebut.

“Dampak dari proses penguraian sampah organik yang tidak terkontrol menghasilkan gas metana, yang berkontribusi pada pemanasan global. Selain itu, lingkungan menjadi kotor, kualitas tanah menurun, dan kesehatan masyarakat terancam,” ungkapnya.

Karena itu, implementasi Teba Modern menjadi solusi inovatif untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. “Melalui sosialisasi dan pelatihan, masyarakat diberikan pemahaman serta fasilitas untuk mendukung pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.
Bagaimana,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, juga dipaparkan beberapa materi. Pemaparan materi mengenai “Konsep Pengelolaan Sampah Teba Modern” disampaikan oleh I Wayan Balik Mustiana, Ketua Badan Pengelolaan Sampah Desa Adat Cemenggoan, Gianyar, Bali. Beliau dikenal sebagai tokoh yang berperan penting dalam program pengelolaan sampah mandiri di desanya dan merupakan anggota aktif Forum Penggiat Lingkungan Bali.

Pemaparan materi mengenai “Manfaat Eco Enzyme dan Proses Pembuatannya”, disampaikan oleh I Wayan Puja, Koordinator Forum Penggiat Lingkungan Bali. Ia menjelaskan bagaimana eco enzyme dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan limbah rumah tangga serta memberikan panduan praktis dalam proses pembuatannya.

Pemaparan materi mengenai “Biopori dan Manfaatnya untuk Tanah”, disampaikan oleh I Wayan Adi Cipta, menjelaskan cara kerja lubang biopori dalam mempercepat resapan air ke dalam tanah sekaligus mendukung pengelolaan sampah organik.

Jenna Aditya Pratama, menjelaskan, proses pembuatan Teba Modern dimulai dengan menggali lubang biopori sedalam 2 hingga 2,5 meter. Kedalaman ini telah ditentukan secara paten untuk memastikan kondisi ideal bagi bakteri dalam mempercepat penguraian sampah organik. “Kedalaman yang kurang tepat dapat menyebabkan tingkat keasaman tinggi dan kurangnya oksigen, sehingga menghambat proses pengolahan. Untuk menambah estetika, lubang dilengkapi dengan buis beton yang memperkuat struktur dan tutup multifungsi yang dapat digunakan sebagai meja,” jelasnya.

Dikatakan, desain ini tidak hanya mendukung fungsionalitas tetapi juga memberikan tampilan yang lebih menarik. Sedangkan untuk praktek cara pembuatan pupuk organik dipaparkan perangkat Desa Banjar Keliki Kawan, dengan bahan dedaunan kering dan sampah sampah organik lainya. Yang kemudian dimasukan kedalam lubang Teba Modern yang didemonstrasikan di hadapan warga.

“Untuk jangka pendek hasil yang diharapkan, bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah organik. Juga meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang proses pengolahan sampah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat,” jelasnya.

Sedangkan untuk jangka panjang, diharapkan mampu menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus mempromosikan Banjar Keliki Kawan sebagai contoh bagi desa lain. Disamoing itu juga membentuk budaya masyarakat yang lebih peduli lingkungan dengan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.

“Juga diharapkan meningkatkan kualitas dan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk kompos, mendukung produktivitas pertanian lokal,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *