
Balidalamberita.com, KARANGASEM – Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang terkenal mempunyai keanekaragaman budaya dan tradisi, salah satunya adalah seni tari.
Salah satu tradisi kuno dari Desa Adat Tenganan, Karangasem dinamakan tradisi siat pandan atau disebut juga dengan Mekare-kare.
Tradisi Siat Pandan merupakan salah satu tradisi adat Bali sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra.
Tradisi siat pandan dikenal sebagai salah satu bentuk tarian khas Bali dengan kearifan lokal dan mempunyai nilai ekonomi, pendidikan, sosial, dan spiritual tinggi.
Peperangan dalam tradisi unik tersebut dilakukan menggunakan daun pandan berduri yang menjadi salah satu senjata.
Sarana pada Pagelaran Siat Pandan
Beberapa sarana yang diperlukan untuk melangsungkan tradisi ini, diantaranya:
- Daun Pandan Berduri
Daun pandan yang dipilih hanya berasal dari Desa Adat Tenganan yang dapat digunakan untuk tradisi ini.
Daun pandan tersebut dipilih karena duri daun pandan yang lebih mudah terlepas sehingga tidak mengakibatkan luka yang parah ketika digunakan dalam perang tersebut.
- Gamelan
Pertunjukan ini juga kerap memperoleh iringan gamelan selonding sebagai instrumen gamelan sakral atau yang dimainkan saat waktu tertentu.
- Pakaian Adat
Para penari pada tradisi ini mengenakan pakaian adat khas desa Tenganan, meliputi kamen geringsing dan kadutan (keris kecil) yang selanjutnya diselipkan pada belakang pinggang.
- Perisai atau Tamyang
Perisai yang digunakan pada tradisi terbuat terbuat dari anyaman rotan yang mempunyai bentuk lingkaran, kuat dan memiliki ukuran yang besar.
Sejarah Tradisi Siat Pandan
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, Dewa Indra merupakan Dewa Perang dan Kesuburan. Meskipun tidak ada sumber tertulis yang menjelaskan asal-usul dari tradisi tersebut.
Namun satu-satunya sumber tertulis yang menyebutkan tradisi siat Pandan diduga berasal dari kitab Usana Bali (pembaharuan terakhir kali pada 1842).
Pada kitab ini menjelaskan jika Siat Pandan adalah tradisi perang dengan menggunakan daun pandan yang berduri dalam dijadikan senjata dan perisai tamyang pada perlindungan diri.
