Oktober 15, 2026
I Gusti Ngurah Rai (Foto: Wikipedia)

Balidalamberita.com, BADUNG – Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai sebuah nama yang langsung terlintas di benak siapa pun yang pernah mengunjungi atau bermimpi ke Pulau Dewata Bali.

Nama megah ini bukan sekadar penamaan biasa, melainkan pengabadian abadi terhadap jasa seorang Pahlawan Nasional yang gugur muda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia: Kolonel I Gusti Ngurah Rai.

Profil Kolonel I Gusti Ngurah Rai

I Gusti Ngurah Rai lahir pada 30 Januari 1917 di Desa Carangsari, Kabupaten Badung, Bali.

Berasal dari keluarga bangsawan, ia menempuh pendidikan militer dari masa pendudukan Belanda, termasuk di Military Cadet School di Gianyar dan Magelang.

Latar belakang pendidikan ini menjadikannya perwira militer yang terdidik dan cakap.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Ngurah Rai kembali ke Bali dan segera membentuk dan memimpin pasukan yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi Sunda Kecil.

Pasukan inilah yang menjadi inti perlawanan bersenjata di Bali.

Puncak kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai terjadi dalam peristiwa Puputan Margarana pada 20 November 1946 di Desa Marga, Tabanan.

“Puputan” adalah istilah Bali yang berarti perang habis-habisan sampai titik darah penghabisan, sebuah tradisi perlawanan yang dilakukan tanpa gentar di hadapan musuh yang jauh lebih kuat.

Saat itu, I Gusti Ngurah Rai memimpin pasukannya yang dikenal sebagai “Ciung Wanara” melawan pasukan Belanda yang jauh lebih unggul dalam persenjataan dan jumlah.

Setelah sempat melakukan strategi gerilya yang sukses, pasukan Ngurah Rai terdesak dan memilih untuk bertempur secara frontal sebuah pilihan heroik.

Bersama 96 anggota pasukannya, I Gusti Ngurah Rai gugur sebagai kesatria.

Tindakan heroik dan pengorbanan total ini menjadi salah satu babak terpenting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di Indonesia bagian timur.

Untuk menghormati pengorbanan dan jasa luar biasa tersebut, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahi I Gusti Ngurah Rai gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden pada tahun 1975.

Salah satu bentuk penghargaan tertinggi untuk mengenang jasa-jasa beliau adalah dengan mengabadikan namanya sebagai nama bandara internasional di Bali: Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai (DPS).

Bandara ini, yang berlokasi di Tuban, Kuta, kini menjadi gerbang udara utama dan wajah pertama Indonesia bagi jutaan wisatawan internasional setiap tahunnya.

Setiap kali pesawat mendarat atau lepas landas, nama I Gusti Ngurah Rai selalu disebut, mengingatkan setiap orang baik domestik maupun asing bahwa Bali, di balik keindahannya, adalah pulau yang diperjuangkan dengan darah dan kehormatan seorang pahlawan.

Selain bandara, wajah I Gusti Ngurah Rai juga pernah diabadikan pada pecahan uang kertas Rp50.000, semakin menegaskan kedudukannya sebagai tokoh penting dalam sejarah bangsa.

Kisah I Gusti Ngurah Rai adalah warisan tentang keberanian, integritas, dan pengorbanan tanpa batas demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *