Oktober 15, 2026
IMG-20260927-WA0006

Bali dalam berita. com, DENPASAR — Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan yang juga menjabat sebagai Anggota Badan Pengkajian MPR RI, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan, S.T., M.Si., menggelar kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar. Kegiatan yang dilangsungkan pada 27 September 2026 ini dihadiri oleh warga setempat, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen pemuda guna memperkuat pemahaman mengenai pentingnya landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam pemaparan materinya, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan membuka diskusi dengan menyoroti kekayaan bangsa Indonesia yang lahir dari keragaman suku, agama, bahasa, adat istiadat, hingga kondisi sosial dan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa keberagaman tersebut merupakan identitas sekaligus kekuatan utama bangsa dalam membangun kehidupan nasional. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa perbedaan tersebut juga dapat berubah menjadi tantangan serius apabila tidak dikelola dengan bijak di tengah dinamika zaman yang terus bergerak cepat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi informasi saat ini membawa dua sisi mata uang bagi kehidupan masyarakat. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan akses pendidikan dan perluasan partisipasi publik, namun di sisi lain ruang digital kerap disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau hoaks, ujaran kebencian, provokasi, serta konten intoleran. Kondisi inilah yang dinilai berpotensi memicu polarisasi sosial dan mengancam keutuhan persatuan bangsa jika tidak diantisipasi dengan landasan moral yang kuat.

Untuk menangkal berbagai kerawanan tersebut, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan menegaskan kembali urgensi pengamalan Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar ini dinilai memiliki kedudukan yang saling berkaitan erat dalam membentuk tatanan masyarakat yang demokratis, berdaulat, berkeadilan, serta senantiasa menghargai perbedaan.

Dalam penjabarannya mengenai pilar pertama, ia menekankan bahwa Pancasila bukan sekadar teks yang dihafalkan, melainkan pandangan hidup dan pedoman moral yang harus diwujudkan dalam laku keseharian. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial harus menjadi pijakan agar masyarakat senantiasa mengutamakan semangat gotong royong, toleransi, serta menyelesaikan setiap gesekan sosial melalui jalur musyawarah.

Sementara itu, terkait UUD NRI Tahun 1945, ia mengingatkan pentingnya kesadaran konstitusional di tengah masyarakat. Menurutnya, warga negara perlu memahami hak-hak yang dilindungi oleh konstitusi secara seimbang dengan kewajiban untuk menaati hukum, menjaga ketertiban umum, serta menghormati hak asasi sesama warga. Keseimbangan antara hak dan kewajiban ini diyakini mampu melahirkan kehidupan bernegara yang tertib dan berkeadilan tanpa adanya kesewenang-wenangan.

Bergeser pada pilar ketiga, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan menegaskan bahwa komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, bukan hanya tugas pemerintah semata. Menjaga NKRI dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan terdekat, seperti merawat kerukunan tetangga, memperkuat solidaritas sosial, serta menolak segala bentuk narasi yang berpotensi memecah belah persaudaraan antarwilayah.

Adapun pilar keempat, yakni Bhinneka Tunggal Ika, ditekankan sebagai semboyan perekat yang mengajarkan bahwa kemajemukan bangsa bukanlah alasan untuk saling mendiskriminasi. Sebaliknya, perbedaan latar belakang budaya maupun keyakinan harus dipandang sebagai mozaik kekuatan yang memperkaya identitas nasional. Ia mengajak masyarakat untuk senantiasa mengembangkan sikap terbuka dan inklusif di ruang publik agar kehidupan bersama dapat berjalan secara harmonis.

Menutup rangkaian kegiatan sosialisasi tersebut, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan berpesan agar nilai-nilai kebangsaan ini terus ditanamkan secara berkelanjutan, khususnya kepada generasi muda yang memegang kendali atas masa depan bangsa. Melalui pendekatan dialogis yang interaktif, kegiatan di Desa Pemecutan Kelod ini diharapkan mampu melahirkan masyarakat Denpasar yang memiliki kesadaran kebangsaan tinggi, cerdas bermedia sosial, serta aktif menjaga keutuhan NKRI di tengah berbagai tantangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *