Potret Kawin Massal yang diadakan di Desa Pengotan (Sumber Foto: balebengong.id)
Balidalamberita.com, BANGLI – Desa Pengotan memiliki tradisi kawin massal yang sangat unik dan menjadi bagian integral dari kebudayaan Bali Mula. Tradisi kawin massal ini dipusatkan dan berlangsung di Pura Penataran Agung Desa Pengotan, Bangli, Bali. Acara tersebut biasanya berlangsung selama dua kali setahun, yaitu pada sasih Kapat dan sasih Kedasa.
Tradisi yang Unik
Pada tradisi tersebut, para pasangan diharuskan melakukan pembayaran biaya upacara disesuaikan berdasarkan kebutuhan mereka. Hal tersebut sebagai alternatif yang lebih ekonomis daripada dengan upacara pernikahan pribadi yang biayanya dapat menjadi jauh lebih besar. Tradisi tersebut juga memiliki perbedaan yang signifikan terutama pada sarana upakara. Babi untuk sesaji atau ulam banten di Desa Pengotan digantikan dengan sapi cula atau sapi jantan yang sudah dikebiri.
Prosesi Upacara
Setiap pasangan mempelai tersebut diwajibkan membawa seekor sapi cula, tetapi seiring bertambahnya waktu, tradisi ini mulai menggantinya dengan seekor sapi bagi seluruh mempelai yang akan menikah dengan melakukan urunan. Prosesi upacara tersebut diawali melalui sebuah musyawarah pagi dalam mempersiapkan segala kesiapan yang hendak dilakukan oleh peserta. Selanjutnya sapi dipotong dan ditaruh pada sebuah bale-bale di Pura Bale Agung, yang kemudian diikuti dengan adanya suatu prosesi pembersihan diri ataupun byakala yang kala itu dipimpin oleh Jero Dalang Jebut.
Makna dan Kegunaan Tradisi
Tradisi kawin massal yang berlangsung di desa ini dianggap suatu kewajiban seluruh masyarakat desa adat yang ingin membina kehidupan rumah tangga bersama orang yang dicintainya. Namun bagi yang melakukan pelanggaran pada tradisi tersebut maka nantinya bisa dikenai sanksi adat, misalnya denda atau larangan masuk ke area desa pekraman Pengotan. Dengan mempertahankan atau melestarikan tradisi tersebut, Desa Pengotan bukan hanya memperkuat identitas kebudayaan yang dimilikinya, namun juga bisa menjaga kebersamaan atau kesatuan masyarakat yang ada dalam pemeliharaan nilai-nilai luhur yang ada dalam Bali Mula.
