potret baju adat Bali (sumber foto: disbud.bulelengkab.go.id)
Balidalamberita.com, DENPASAR – Pulau Bali tidak hanya dikenal dengan keindahan alam dan pariwisatanya, tetapi juga kekayaan budayanya yang masih terjaga hingga kini. Salah satu warisan budaya yang terus dilestarikan adalah baju adat Bali, yang memiliki ragam bentuk dan fungsi sesuai dengan konteks upacara dan status sosial pemakainya.
Merujuk pada buku Ensiklopedi Pakaian Nusantara: Aceh hingga D.I Yogyakarta (2021) karya R. Toto Sugiarto dkk., terdapat tiga jenis utama baju adat Bali, yaitu Payas Agung, Payas Madya, dan Payas Alit.
1. Payas Agung
Payas Agung merupakan busana adat Bali yang paling lengkap dan mewah. Dahulu, pakaian ini digunakan oleh kalangan bangsawan, seperti brahmana, ksatriya, dan waisya. Saat ini, Payas Agung umumnya dikenakan oleh pasangan pengantin dalam upacara pernikahan atau oleh tokoh adat dalam upacara besar.
Pakaian ini mencerminkan makna kebahagiaan, keagungan, dan keindahan, dengan dominasi warna cerah seperti kuning dan putih. Gaya dan elemen Payas Agung dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung pada pakem adat setempat.
Ciri khas Payas Agung:
- Perempuan: tapih atau sinjang prada, sabuk toros, kamen prada, sabuk prada, dan selendang prada berwarna kuning.
- Laki-laki: gelung agung, rumbing (hiasan telinga), badong, gelang nagasatru, cincin bermata merah, kain kancut prada, kampuh prada, dan umpal prada.
2. Payas Madya
Payas Madya adalah pakaian adat tingkat menengah yang biasa digunakan dalam upacara potong gigi (metatah) dan upacara ngidih (lamaran). Pakaian ini mencerminkan makna transisi, kedewasaan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai adat.
Ciri khas Payas Madya:
- Penataan rambut: gelung moding dengan hiasan bunga kompyong, 21 bunga sandat emas, dan 7 sasak lepas.
- Busana: kamen songket asli tenun Bali, sabuk prada belah ketupat berwarna-warni.
- Struktur umum: kamben (kain bawah), kancrik (ikat pinggang), dan udeng (ikat kepala).
Pakaian ini juga digunakan saat mengunjungi area suci seperti pura atau situs peninggalan sejarah, sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian kesucian tempat.
3. Payas Alit (Payas Nista)
Payas Alit atau Payas Nista merupakan bentuk paling sederhana dari pakaian adat Bali. Biasanya dikenakan oleh masyarakat umum dalam kegiatan adat harian, seperti persembahyangan di pura atau kegiatan keagamaan lainnya.
Ciri khas Payas Alit:
- Perempuan: kebaya sederhana dan kamen (kain bawahan).
- Laki-laki: kemeja putih, kamen, dan udeng.
Meskipun sederhana, Payas Alit tetap menunjukkan kesopanan dan kekhidmatan dalam pelaksanaan adat dan tradisi Bali.
Tiga jenis baju adat Bali—Payas Agung, Payas Madya, dan Payas Alit—mewakili tahapan, fungsi, dan nilai yang berbeda dalam masyarakat Bali. Ketiganya tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap adat dan spiritualitas yang telah diwariskan secara turun-temurun.
