Tari Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh (sumber foto: mongabay.co.id)
Balidalamberita.com, KARANGASEM – Desa Adat Geriana Kauh, salah satu daerah penghasil padi organik di Bali, memiliki tradisi unik dalam menjaga tanaman padi dari serangan hama. Tradisi tersebut diwujudkan dalam bentuk Tari Sanghyang Dedari, tarian sakral yang rutin dipentaskan setiap tahun saat masa pertumbuhan padi.
Pementasan dilakukan saat padi mulai embud, yaitu fase keluarnya bulir padi. Masyarakat setempat meyakini fase ini sebagai waktu paling rentan terhadap serangan hama. Oleh karena itu, mereka mementaskan Tari Sanghyang Dedari sebagai upaya spiritual untuk menolak bala dan menjaga kesuburan lahan pertanian.
Tari ini tidak hanya menjadi bagian dari upacara adat, tetapi juga simbol penghormatan terhadap alam dan wujud permohonan keselamatan bagi hasil tani.

Proses Seleksi Penari dan Makna Kesucian
Pemilihan penari dilakukan sekitar dua minggu sebelum pementasan. Pengurus desa adat menugaskan para teruna-teruni untuk mengoordinasikan persiapan dan memilih anak-anak perempuan sebagai penari.
Penari yang dipilih berusia antara 8 hingga 11 tahun dan belum mengalami menstruasi, sehingga masih dianggap suci secara spiritual. Jumlah penari dalam setiap pementasan berkisar lima hingga tujuh orang. Tradisi ini juga mengikuti garis keturunan, artinya anak dari penari sebelumnya cenderung dipilih kembali.
Menariknya, para penari tidak menjalani pelatihan khusus. Mereka akan menari dalam keadaan kerauhan atau trance, mengikuti suara gending yang dilantunkan oleh para juru gending. Meski dalam kondisi tidak sadar, gerakan mereka tetap teratur dan mengikuti irama musik tradisional.
Makna Busana dan Prosesi Pementasan
Selama dua dekade terakhir, penari Sanghyang Dedari mengenakan busana putih dan kuning. Warna putih melambangkan kesucian, sementara warna kuning melambangkan kemakmuran. Hiasan kepala mereka, atau gelungan, dihiasi bunga-bunga harum sebagai simbol penyambutan roh suci.
“Gelungan tersebut memakai bunga wangi karena roh Sanghyang turun bersama aroma harum,” ujar I Nyoman Subrata, tokoh adat setempat.
Tarian biasanya dipentaskan di dua tempat utama, yakni catus pata dan pura. Total durasi pementasan berlangsung sekitar dua jam, dengan 1,5 jam di catus pata dan 30 menit di pura.
Salah satu atraksi khas dalam tarian ini adalah saat para penari menari di atas batang bambu sepanjang enam meter. Bambu tersebut menjadi pijakan mereka selama dalam keadaan tidak sadar.
Pelestarian Tradisi dan Harmoni Alam
Tari Sanghyang Dedari tidak hanya berfungsi sebagai penolak bala, tetapi juga memperkuat nilai spiritual dan budaya masyarakat Desa Adat Geriana Kauh. Tradisi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Bali menjaga keseimbangan antara alam, budaya, dan spiritualitas melalui warisan leluhur yang masih lestari hingga kini.
