Ilustrasi dinamika organisasi adat Bali
Balidalamberita.com, DENPASAR – Polemik terkait dinamika internal Organisasi Pacalang di Bali kembali mencuat. Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet selaku Bandesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali menegaskan bahwa pihaknya sebelumnya telah memberikan ruang dan kesempatan kepada sejumlah pihak untuk menyampaikan aspirasi secara baik-baik.
Namun demikian, menurutnya, kesempatan tersebut justru tidak dimanfaatkan secara konstruktif oleh oknum tertentu. Bahkan, yang terjadi justru muncul berbagai pernyataan bernada ancaman yang dinilai tidak mencerminkan etika dalam kehidupan organisasi adat.
Bandesa Agung menyampaikan bahwa sejak awal MDA Bali selalu membuka ruang dialog dan komunikasi. Hal tersebut dilakukan agar setiap persoalan yang muncul dapat diselesaikan melalui mekanisme organisasi serta tetap menjaga keharmonisan antar krama desa adat.
Ia menegaskan bahwa keberadaan Pasikian Pacalang Bali pada dasarnya merupakan bagian dari organ internal MDA yang berfungsi melayani dan memperkuat keberadaan pecalang di desa adat. Oleh karena itu, seluruh proses organisasi harus berjalan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan yang berlaku.
Selain itu, MDA Bali juga menekankan pentingnya menjaga sikap saling menghormati serta tidak mengedepankan narasi provokatif yang dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat adat Bali.
Menurut Bandesa Agung, setiap perbedaan pandangan seharusnya disampaikan melalui jalur yang benar serta mengedepankan musyawarah. Dengan demikian, tujuan utama untuk memperkuat peran pecalang sebagai bagian penting dari sistem keamanan dan ketertiban di desa adat dapat terus terjaga.
Pihak Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali juga mengingatkan bahwa organisasi adat memiliki tata kelola yang jelas, termasuk dalam hal mekanisme pengambilan keputusan. Karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat menghormati aturan yang telah disepakati bersama demi menjaga kewibawaan lembaga adat di Bali.
